Lutfi J Kurniawan (Kiri) bersama penerima penghargaan literasi Intrans Publishing dalam acara peringatan hari jadi Intrans Publishing ke 16 di Hotel Atria Malang, Sabtu (7/9/2019) (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Lutfi J Kurniawan (Kiri) bersama penerima penghargaan literasi Intrans Publishing dalam acara peringatan hari jadi Intrans Publishing ke 16 di Hotel Atria Malang, Sabtu (7/9/2019) (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Sampai hari ini, nama Lutfi J Kurniawan masih menjadi perbincangan hangat banyak kalangan. Sebab dosen sekaligus aktivis anti korupsi itu masuk dalam daftar 10 besar calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Lutfi menjadi satu-satunya nama yang lolos dari Malang sampai tahap 10 besar dan meninggalkan rekannya sesama dari Malang yaitu Abdul Qodir Amir Hartono (Gus Anton), anggota DPD RI asal Malang.

Di kalangan aktivis, Lutfi sudah bukan orang asing lagi. Dia memang dikenal sebagai sosok yang getol melawan praktik korupsi. Salah satu kiprahnya adalah saat mendirikan Malang Corruption Watch (MCW) bersama sesama rekannya dari komunitas diskusi yang sudah berjalan sebelum reformasi 1998.

Bukan hanya sebagai aktivis anti korupsi, Lutfi juga memiliki sisi lain yang selama ini menarik untuk dikulik. Salah satunya adalah kiprahnya menjadi pejuang literasi yang sudah dia lakoni bersama rekan-rekannya sejak 16 tahun lalu. Melalui sebuah perusahaan penerbit, ia beberapa kali mengedit dan menulis buku berbau politik dan korupsi.

Saat ini, selain menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ia juga menjadi Direktur PT Cita Intrans Selaras. Salah satu perusahaan penerbit buku yang sudah memiliki banyak jaringan di berbagai daerah. Pada (7/9/2019), perusahaan yang ia pimpin itu telah berhasil menerbitkan lebih dari seribu eksemplar buku. Buku bernuansa politik, budaya, hingga buku ajar itu sudah banyak menyapa para kutu buku di berbagai daerah.

"Membangun bangsa tanpa peradaban dan pengetahuan itu sangatlah tidak mungkin," kata Lutfi membuka pidato peringatan 16 tahun Intrans Publishing yang berlangsung di Hotel Atria Malang, Sabtu (7/9/2019).

Dia pun bercerita tentang perusahaan yang ia dirikan bersama para rekannya tersebut. Perusahaan ini ia sebut berdiri pada 17 Agustus 2003, dalam sebuah perbincangan serius dan ringan yang dilakukan pasca mengikuti upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

"Tanpa disadari, saat ini sudah 16 tahun perjalanan kami," terangnya.

Dalam kesempatan itu pula, Lutfi menyampaikan jika Intrans Publishing memberikan penghargaan kepada para insan yang telah banyak berjuang dalam bidang literasi. Di mana perjuangan dilakukan di daerahnya masing-masing untuk memperkuat citra diri bangsa melalui budaya literasi.

"Penghargaan kami berikan kepada seluruh insan yang berperan penting dalam kemajuan literasi di daerahnya masing-masing," jelasnya.

Meski menyandang status sebagai Capim KPK, pria berkacamata ini nampaknya enggan berbicara banyak tentang perjalanannya saat mendaftarkan diri sebagai Capim KPK hingga terpilih 10 besar seperti sekarang. Ia lebih senang berbicara banyak hal tentang budaya literasi yang berjalan di Indonesia saat ini.

Dia hanya menyampaikan jika motivasi ia mencalonkan diri adalah adanya keinginan untuk memperbaiki sistem pemberantasan korupsi. Karena sistem yang dijalankan saat ini ia nilai masih belum maksimal. Menurutnya perlu ada perubahan dalam metode pemberantasan korupsi.

"Selama ini lebih banyak penindakan dengan pendekatan teknis hukum semacam tertangkap tangan. Saya pikir ke depan tidak bisa begitu terus. Perlu ada pendekatan kebudayaan. Karena korupsi itu habbit atau kebiasaan,” tuturnya.

Lutfi menyebut, pencegahaan dan pendekatan menjadi prioritas dalam memberantas praktik korupsi. Selain itu, Lutfi membawa konsep harmonisasi lembaga penegak hukum untuk tidak berebut tugas. Karena itu ia nilai dapat membuat kinerja pemberantasan korupsi kurang efektif.

"Termasuk pengembalian aset yang dikorupsi. Selama ini hal itu belum banyak dilakukan," jelasnya.