Kepala DPKPCK Kabupaten Malang Wahyu Hidayat beserta istri dan duta sanitasi di stan expo yang mengusung konsep green building.(for MalangTIMES)
Kepala DPKPCK Kabupaten Malang Wahyu Hidayat beserta istri dan duta sanitasi di stan expo yang mengusung konsep green building.(for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kepanjen sebagai ibu kota Kabupaten Malang terus berbenah dalam berbagai aspek. Berbagai pembangunan fisik pun terus terbangun di wilayah dengan luas 46,25 km2 serta memiliki kepadatan 125 jiwa per km2 itu.

Untuk mewujudkan Kota Kepanjen tersebut, tentunya berbagai aspek dan konsep pembangunan perlu dirumuskan secara detail dan sesuai dengan tata ruang dan wilayah yang ada. Sehingga harapan besar Kepanjen sebagai ibu kota yang hijau, ramah lingkungan, dan hemat energi bisa dicapai di kemudian hari.

Bertolak dari itulah, Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang mencoba memvisualkan konsep green building dalam tata kota pintar Kepanjen di stan Expo Pembangunan Malang Kabupaten 2019.

Konsep green building itu terlihat dari bentangan banner besar yang menutup bagian tengah stan dengan gambar bangunan kantor DPKPCK Kabupaten Malang. Berbagai aksesori pepohonan terlihat meneduhkan suasana di bangunan itu.

Sedangkan di ruangan stan sendiri terlihat penataan pertamanan kota yang juga menambah kesejukan di antara belukar beton bangunan.
"Kami usung konsep green building dalam mewujudkan Kepanjen sebagai ibu kota Kabupaten Malang. Konsep tersebut akan menjadikan Kepanjen sebagai kota hijau dengan bangunan pintar nantinya," ungkap Wahyu Hidayat, kepala DPKPCK Kabupaten Malang, Jumat (06/09/2019) kepada MalangTIMES.

Green building sendiri sebagai konsep penataan kota telah menjadi kebutuhan bagi seluruh negara saat ini. Tak terkecuali di Indonesia pada umumnya dan di Kabupaten Malang khususnya.

Melalui konsep tersebut, pembangunan kota tidak akan terjebak pada pembangunan infrastruktur fisik saja dengan mengabaikan berbagai indikator lingkungan hidup dan sosiokultural masyarakat.

Dari berbagai sumber, disebutkan sektor bangunan diperkirakan menyumbang 40 persen konsumsi energi dunia. Diperkirakan pada 2040, total konsumsi energi dunia untuk bangunan meningkat 80 persen. 

Hal tersebut tentunya akan membuat beban berat bagi sebuah kota dan tentu masyarakatnya. Kota hijau dan bangunan pintar pun akan semakin jauh dari jangkauan bila hal itu terus terjadi. Tak terkecuali di Kepanjen dengan berbagai derap pembangunan infrastruktur yang ada saat ini.

"Kondisi inilah yang coba kami angkat alternatifnya dengan konsep green building. Yakni kota hijau dan bangunan pintar berkelanjutan bagi Kepanjen sebagai ibu kota Kabupaten Malang," ujar Wahyu.

Salah satu indikator dalam green building adalah terkait efisiensi energi di sektor bangunan yang jadi keniscayaan sebuah kota. Wahyu menjelaskan, Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pun telah menetapkan target efisiensi energi di sektor bangunan. Target itu tertuang dalam draf Rencana Induk Konservasi Energi Nasional (RlKEN) yaitu sebesar 10-30 persen untuk bangunan komersial dan 15-30 persen untuk bangunan residensial pada 2025. 

"Untuk menghadapi hal itulah, kami usung tema ini dalam Expo Pembangunan Malang Kabupaten 2019 ini. Ini perlu terus digiatkan tentunya, baik oleh kita sebagai pemerintahan maupun para pelaku industri bangunan dan properti," urai Wahyu.

Seperti diketahui, bangunan sebagai entitas yang kompleks dengan beberapa sistem yang saling terhubung seperti penerangan, utilitas dan keamanan kerap melahirkan persoalan serius tata kota serta rentan terhadap potensi gangguan yang bisa merugikan keselamatan jiwa dan aset itu sendiri.

Tanpa adanya konsep berkelanjutan dengan bertumpu pada pembangunan hijau dan bangunan pintar, maka kota hanya tinggal menunggu waktunya untuk digerogoti berbagai persoalan serius.

"Inilah pentingnya konsep green building sebuah kota. Dalam konteks ini di Kepanjen sebagai ibu kota. Kami sosialisasikan konsep bangunan pintar dan hijau kepada masyarakat," ucap Wahyu.

Dia  mengatakan, standar green building yang diakui dunia terdiri dari komponen hemat energi, hemat penggunaan air, low carbon emission, serta penghijauan yang didukung green roof untuk mendinginkan suhu di bawahnya.

Untuk mendetailkan skema green building, DPKPCK Kabupaten Malang juga menyempurnakan maket Kepanjen yang ada di standnya. Maket itu pula yang menarik perhatian Plt Bupati Malang Sanusi yang beberapa kali mengunjunginya.

"Pak Plt beberapa kali ke stan kami. Selain melihat suasana stan, juga maket pembangunan Kepanjen dengan konsep green building," pungkas Wahyu.