Buku Ritmekota (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Buku Ritmekota (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Selama ini, tulisan-tulisan mengenai musik di Kota Malang banyak terabadikan dalam bentuk berita atau tertulis di blog atau zine. Sementara, yang tertuang di buku sangatlah jarang, terlebih lagi tentang ekosistem musik di Kota Malang.

Atas dasar inilah Denny Mizhar dari Pelangi Sastra dan juga Samack, penulis musik kawakan Kota Malang, mengumpulkan 12 penulis musik yang berdomisili atau pernah tinggal di Kota Malang.

Tindakan ini juga berawal dari keresahan mereka akan minimnya angka literasi musik di Kota Malang.

Tulisan dari 12 penulis musik ini kemudian terhimpun dalam buku berjudul Ritmekota. Para penulis musik tersebut berbagi soal denyut dan bentuk ekosistem musik di Kota Malang. Isinya yakni berbagai catatan, rekam jejak, serta esai personal seputar scene musik di Kota Malang.

"Ritmekota berisi narasi-narasi tentang musik yang ada di Kota Malang. Cerita dari pelaku atau orang-orang di lingkungannya langsung yang mana itu kan biasanya agak jarang," ujar Samack selaku editor, saat press conference Ritmekota di Ngalup Coworking Space belum lama ini.

Samack menjelaskan, dalam buku tersebut, mereka menulis tentang kancah rock alternatif, emo revival, hardcore, label rekaman, geliat gigs dan pertunjukan, profil fanbase band yang militan, serta gagasan musikalisasi puisi dan titian rima hip hop.

"Aset-aset itu sengaja dikumpulkan dalam satu buku ini. Harapannya orang-orang di luar sana jadi tahu seperti apa geliat atau ekosistem musik di Kota Malang," bebernya.

Sementara itu, Dandy dari Pelangi Sastra mengungkapkan buku Ritmekota menunjukkan bagaimana peristiwa skena musik di Malang. Jadi, tidak hanya mendengarkan melalui omongan saja.

"Tulisan musik di Malang saat ini banyak tersebar di Zine. Tapi distribusi Zine tidak begitu luas di kota-kota lain sehingga Ritmekota mengupayakan bisa terdistribusi dengan baik," imbuhnya.

Dirilisnya buku ini, lanjutnya, juga sebagai upaya untuk mendokumentasikan teks yang ada di kota Malang.

Launching Buku Ritmekota

"Dari awal Pelangi Sastra dibentuk untuk melakukan upaya-upaya pendokumentasian terkait seni dan sastra," ucapnya.

Salah satu penulis, Zidni Chaniago menulis tentang gigs Srawung dengan judul Dare to Art, Dare to Win: Attend Gigs Dead or Alive.

"Gigs srawung sendiri sebenarnya pengen menciptakan ekosistem bermusik yang lebih sehat dari hulu ke hilir, mulai dari produsen sampai ke konsumen, yang mana produsennya adalah musisi independen yang memiliki konsumen siapapun itu pendengarnya," jelasnya.

Dalam tulisan tersebut ia mengkritisi fenomena gigs gratis yang mengundang artis ibu kota dan artis lokal.

"Yang dari ibu kota dikasih harga Rp 25 juta, yang lokal Rp 500 ribu. Itu menghacurkan. Itu yang nggak sehat," jelasnya.

Tulisan Zidni tersebut sebelumnya sudah melalui penelitian ilmiah sebab memang diangkat dari skripsinya yang berjudul "Musik Iksan Skuter: Gerakan Sosial Baru". Dan tulisan dalam buku inilah bentuk yang lebih ringan dari skripsi tersebut.

Sementara penulis lain, yakni Randy Levin Virgiawan yang akrab disapa Kempel menulis Romantika Jogeder: Menulis Tani Maju dari Bawah Panggung.

Ia menjelaskan, ketika didengarkan dengan saksama, aransemen musik Tani Maju sangat unik dan berbeda dengan orkes-orkes lainnya.

"Karena Tani Maju itu mengadopsi pola gamelan dibawa ke kontemporer. Seunik itu Tani Maju," tandasnya.

Menurut Kempel yang juga seorang Jogeder, Tani Maju masih menjadi standar atas kesuksesan band-band di Universitas Negeri Malang (UM).

Ia menyatakan bahwa musik Tani Maju merupakan musik folk Malang.

"Ironisnya mereka belum pernah diundang dalam acara berlabel folk manapun di Malang," tukasnya.