Rektor Unikama, Dr Pieter Sahertian (dua dari kanan) saat memberikam sambutan dalam workshop penyusunan dokumen Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) tingkat fakultas dan program studi (Unikama for MalangTIMES)
Rektor Unikama, Dr Pieter Sahertian (dua dari kanan) saat memberikam sambutan dalam workshop penyusunan dokumen Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) tingkat fakultas dan program studi (Unikama for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Terus berupaya meningkatkan mutu di Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), Pusat Penjaminan Mutu (PPM) Unikama, menggelar workshop penyusunan dokumen Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) tingkat fakultas dan program studi (prodi) (4/9/2019). Workshop diikuti sekitar 85 peserta yang berasal dari unsur Fakultas, Prodi maupun unit Humas dan Kerjasama, Kemahasiswaan dan unit lainnya.

Ketua Pusat Penjaminan Mutu Dr. Sri Rahayu, M. Pd merangkap Ketua Tim Penyusunan Dokumen SPMI Universitas Kanjuruhan Malang, menjelaskan dalam sambutannya, jika kegiatan tersebut, dilatari atas Permenristek Dikti nomor 62 tahun 2016 tentang SPM Dikti. Dalam peraturan tersebut meyeutkan jika SPM Dikti adalah kegiatan sistemik untuk meningkatkan pendidikan tinggi secara berencana dan berkelanjutan.

"SPM Dikti tersebut bertujuan untuk menjamin pemenuhan standar pendidikan tinggi sesuai standar Dikti, secara sistemik dan berkelanjutan. Sehingga, bisa tumbuh dan berkembang budaya mutu. Mengendalikan dan menyelenggarakan pendidikan tinggi oleh perguruan tinggi, untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu," jelasnya.

Sedang dalam UU nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, pada bab 3 pasal 53 tercantum,  bahwa SPM Dikti terdiri atas sistem penjaminan mutu internal yang dikembangkan oleh perguruan tinggi. Kemudian, sistem penjaminan mutu eksternal yang dikembangkan lewat akreditasi.

Sementara dalam pasal 52 ayat 4 UU Dikti, mengatakan, bahwa SPMI didasarkan pada pangkalan data pendidikan tinggi. Dengan demikian, maka semua perguruan tinggi wajib untuk menjalankan SPM Dikti sesuai dengan kekhasan perguruan tinggi masing-masing, sehingga dapat mengembangkan budaya mutu perguruan tinggi.

Dokumen SPMI perguruan tinggi, dapat dituangkan model buku yang berupa kebijakan SPMI, manual SPMI, Standar SPMI maupun formulir SPMI. Dan dengan adanya instruksi dari Direktorat Jenderal pembelajaran dan kemahasiswaan tersebut maka setiap perguruan tinggi wajib untuk melakukan penyesuaian dokumen SPMI tersebut.

"Berdasarkan keterangan tersebut sangat perlu diadakan workshop penyusunan dokumen SPMI, baik di tingkat universitas, fakultas maupun prodi. Dan alhamdulillah, Unikama di tingkat universitas sudah dilaksanakan," ungkapnya dalam sambutan.

Lanjutnya, dalam kegiatan tersebut, tujuannya tentu untuk membantu semua personel pelaksana SPMI merancang penyusunan dokumen SPMI, baik tingkat universitas, fakultas maupun prodi. Selain itu, juga untuk mewujudkan ketersediaan dokumen SPMI lingkungan Unikama, sesuai yang telah diamanatkan UU yang meliputi dokumen kebijakan SPMI.

Sementara, Rektor Unikama, Dr. Pieter Sahertian mengatakan, jika pihaknya sangat mengapresiasi inisiasi dari PPM Unikama untuk mengadakan workshop ini. Sebab, budaya mutu harus ditingkatkan di lingkungan kampus. Karena pada akhirnya, kinerja sebuah perguran tinggi, fakultas dan prodi juga sangat ditentukan oleh seberapa berkualitasnya mutu yang dibuat.

"Dengan dokumen mutu yang disusun, yang diwujudkan dalam program kerja, maka disanalah akan mudah untuk mengukur keberhasilan. Misalnya menetapkan dosen sebagai pengajar, prodi tertentu mewajibkan lima buku ajar yang diterbitkan. Maka di situ masuk program kerja. Pencapaiannya secara bertingkat sesuai apa yang ditetapkan tahun ke tahun. Misalkan tahun ini yang ditetapkan dua, namun tercapai tiga, berarti melebih target," jelasnya.

"Nantinya diharapkan agar melanjutkan ke unit masing-masing, sehingga pada saat menjalankan program, standart mutu sudah selesai. Tentunya itu tidak dicapai dalam satu dua tahun, namun secara bertahap yang pada akhirnya unit bapak ibu bisa mencapai kualitas mutu yang baik,"pungkasnya.