Puluhan delegasi dari 13 negara yang menerima beasiswa kursus singkat di California. (Foto: Humas)
Puluhan delegasi dari 13 negara yang menerima beasiswa kursus singkat di California. (Foto: Humas)

MALANGTIMES - Salah satu Pustakawan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Ari Zuntriana, terpilih menjadi salah satu penerima beasiswa di California, Amerika Serikat.

Beasiswa kursus singkat selama lima hari (5-9/8/2019) tersebut merupakan Summer Course di University of California Los Angeles (UCLA).

Kursus bertajuk FSCI (FORCE11 Scholarly Communication Institute) 2019 tersebut merupakan kerjasama lembaga non profit FORCE11 dan kampus UCLA.

Puluhan delegasi dari 13 negara terpilih belajar bersama. Mereka berasal dari berbagai latar belakang keilmuan dan pekerjaan. Di antaranya akademisi, peneliti, pustakawan, mahasiswa pascasarjana, pengembang program (developer), serta profesional yang bekerja di bidang penerbitan ilmiah.

Selama lima hari, Ari mengikuti tiga kelas, yaitu FAIR data, penggunaan Dataverse sebagai platform untuk manajemen data penelitian (research data management), dan open publishing tools sebagai alat bantu ajar di perpustakaan.

“Ada banyak pilihan kelas yang ditawarkan. Semua topiknya menarik dan benar-benar mengangkat isu terkini bidang komunikasi ilmiah,” ujarnya.

Karena hanya bisa mengambil tiga kelas, maka ia memilih yang sekiranya bisa diaplikasikan untuk diadopsi UIN Malang.

Para pemateri merupakan pakar kenamaan. Seperti Tom Olijhoek, Editor-in-Chief DOAJ yang menjadi narasumber implikasi penerapan Plan S di Eropa terhadap penerbitan ilmiah.

Selain mengikuti kelas, Ari juga mempresentasikan materi lightning talk.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat upaya advokasi sains terbuka di Indonesia.

“Kebetulan saya merupakan anggota Tim Sains Terbuka Indonesia. Saya presentasi tentang perkembangan pre-print di Indonesia dengan menggunakan INA-Rxiv sebagai model. Saya juga berbicara tentang MOOC yang tengah dikembangkan oleh teman-teman Tim Sains Terbuka,” beber alumni pascasarjana Information School The University of Sheffield, Inggris ini.

Menurut Ari, ada banyak sekali yang harus dipersiapkan jika ingin menerapkan apa yang diajarkan selama short course.

Sebagai contoh, negara-negara Global North atau negara maju, sudah menerapkan pengelolaan data riset sejak beberapa tahun lalu.

Sementara di Indonesia, masih sangat sedikit lembaga riset maupun universitas yang sudah mengimplementasikannya.

Kursus ini, menurutnya, sangat membantu memahami perkembangan komunikasi ilmiah terkini.

Yang jelas, sembari mengadopsi RDM dengan FAIR principles, misalnya, upaya advokasi sains terbuka (open science) dan akses terbuka (open access) harus lebih digiatkan dan harus melibatkan lebih banyak pihak.

“Tidak cukup jika hanya pustakawan,” pungkasnya.