Angka Stunting Tertinggi Jatim di Kota Malang, Gubernur Khofifah Ingatkan Ini

MALANGTIMES - Kota Malang menempati posisi pertama kasus stunting di Jawa Timur. Gubernur Khofifah Indar Parawansa pun mengingatkan agar ada upaya konkret untuk melihat secara detail penyebab stunting.

Mantan menteri sosial (mensos) itu menyampaikan, angka stunting Jatim adalah 32,81 persen dan melebihi rata-rata nasional yang berada di kisaran angka 30 persen. Sehingga dia mengharapkan ada penelitian mendetail terkait kondisi sebenarnya yang mengakibatkan angka stunting bertambah.

"Apakah karena gaya hidup remaja kita yang berubah atau bagaimana. Harus ada penelitian. Soalnya, stunting tidak bisa dipastikan sejak janin masih dalam kandungan," katanya saat membuka acara Temu Ilmiah Nasional dengan tema Percepatan Pengembangan Desa Mandiri yang digelar di Hotel Regent Park, Selasa (3/9/2019) malam.

Dia menjelaskan, stunting sangat mungkin terjadi lantaran gaya hidup yang tidak baik sejak masih remaja. Sehingga perlu ada penanganan dalam memantau pola dan gaya hidup masyarakat sejak masih remaja. Harapannya, stunting dapat diatasi. "Kota Malang itu masih 51 persen dan itu tertinggi," ucapnya.

Bukan hanya stunting. Angka kematian ibu dan bayi juga menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Saat ini, angka kematian ibu tertinggi adalah Jember dan kematian bayi tertinggi di Jombang.

"SDM unggul, Indonesia akan maju. Salah satu yang harus diperhatikan adalah faktor kesehatan," pungkas nya.

Menurut data Dinas Kesehatan Jatim berdasarkan elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (EPPGBM), per 20 Juli 2019 prevalensi stunting balita di Jatim sebesar 36,81 persen. Adapun, tiga daerah tertinggi prevalensinya yakni di Kota Malang sebesar 51,7 persen, Kabupaten Probolinggo 50,2 persen, dan Kabupaten Pasuruan 47,6 persen.

Top