MALANGTIMES - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut angka kemiskinan tertinggi di Jatim dipegang Kabupaten Malang. Karena itu, Kabupaten Malang menjadi daerah yang mendapat perhatian khusus untuk segera dicarikan akar permasalahan dan penyelesaiannya.

"Malang jadi penting karena kemiskinan tertinggi di Kabupaten Malang dan stunting tertinggi di Kota Malang," tegasnya saat membuka acara Temu Ilmiah Nasional dengan tema Percepatan Pengembangan Desa Mandiri yang digelar di Hotel Regent Park, Selasa (3/9/2019) malam.

Khofifah menyampaikan, perlu ada banyak upaya yang semestinya dilakukan lebih cepat dalam mengatasi kemiskinan. Selain melakukan penelitian mendalam, sederet upaya juga terus didorong oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Salah satunya dalam pemakaian APBD.

Mantan menteri sosial ini menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan Provinsi Jatim untuk mengentaskan kemiskinan adalah melalui program tastis (gratis dan berkualitas), yaitu program pendidikan gratis yang sudah mulai digelontorkan. Ada 32 persen lebih APBD Provinsi Jatim diperuntukkan bagi pendidikan.

"Layanan kesehatan relatif merata dan sudah dibangun Pakde Karwo (Soekarwo, gubernur sebelum Khofifah). Maka yang harus didorong adalah pendidikan," ucapnya.

Pengentasan kemiskinan melalui agenda pendidikan itu, menurut Khofifah, telah menjadi konsentrasi tinggi bagi Pemerintah Provinsi Jatim. Terutama dalam menyiapkan lulusan yang kompetitif, berkualitas, dan mampu bersaing dengan berbagai kondisi.

Tak dapat dipungkiri, saat ini pengangguran tertinggi Jatim adalah lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Sehingga Khofifah mendorong agar seluruh SMK di Jatim lebih menyiapkan diri dalam mencetak lulusan yang siap bekerja dan berkualitas. Salah satu upaya yang dilakukan Pemprov Jatim adalah dengan menyiapkan laboratorium khusus yang dibutuhkan setiap siswa saat praktek.

"Kendalanya selama ini ada teori, tapi tak ada persiapan laboratorium. Kami akan usahakan untuk membuatkan laboratorium yang bisa dimanfaatkan oleh banyak sekolah secara bersama-sama. Vokasi pendidikan yang penting, tapi juga menyisakan pekerjaan rumah bagi kita," tambahnya.

Tak hanya itu. Khofifah juga menyampaikan perlu asistensi dalam proses pembangunan yang akan dilakukan hingga ke daerah kabupaten dan perkotaan. Sehingga ada sinkronisasi yang terjalin dan pembangunan dapat berbanding lurus. Tanpa kecuali program dalam mengentaskan kemiskinan.

Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim tahun 2018, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Malang mencapai 268 ribu. Di bawah Kabupaten Malang, ada Kabupaten Jember dengan jumlah 243 ribu, Kabupaten Sumenep (218 ribu), Kabupaten Probolinggo (217 ribu), dan Kabupaten Bangkalan (191 ribu).