Wali Kota Malang Sutiaji (tengah) dalam acara Penyusunan dan Launching Standarisasi Kemampuan Teknis Industri Aplikasi dan Pengembangan Permainan Bekraf (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Wali Kota Malang Sutiaji (tengah) dalam acara Penyusunan dan Launching Standarisasi Kemampuan Teknis Industri Aplikasi dan Pengembangan Permainan Bekraf (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Menjadi role model ekonomi kreatif (Ekraf) Indonesia dengan dinobatkannya Kota Malang sebagai KaTa (Kabupaten/Kota) Kreatif semakin menjadikan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang serius dalam mengembangkan ekraf di subsektor Aplikasi dan Gim.

Sub sektor ini di Pulau Jawa dinilai berpotensi dalam menjadikan ekraf sebagai peningkatan ekonomi kota. 

Karenanya, dalam pengembangannya masih dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang terampil di bidangnya.

Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan pedoman kebutuhan penguasaan teknik berbasis industri aplikasi dan pengembang permainan tersebut disinkronisasikan dengan pendidikan. 

Yakni, dengan melibatkan lulusan perguruan tinggi di Kota Malang yang mengambil bidang aplikasi dan gim.

"Pedoman ini muncul karena berangkat dari beberapa masalah. Seperti perguruan tinggi di Kota Malang yang memiliki bidang aplikasi dan gim. Banyak perguruan tinggi atau pendidikan yang kurikulumnya belum berbasis kebutuhan sosial. Makannya yang terserap baru separuhnya saja," ujarnya saat mengisi Penyusunan dan Launching Standarisasi Kemampuan Teknis Industri Aplikasi dan Pengembangan Permainan Bekraf, siang ini (Sabtu, 31/8).

Ia menjelaskan, perguruan tinggi di Kota Malang yang memiliki basis di bidang aplikasi sekitar 4800, saat ini yang telah bergerak dalam industri aplikasi dan gim telah terserap separuhnya atau sekitar 2400. 

Namun, pengembangan SDM subsektor aplikasi dan gim di Kota Malang dan pelaku ekraf aplikasi dan gim masih perlu digencarkan.

"Kemarin dari serapan itu beberapa produk kota yang dikirim ke Jakarta ada yang dibeli BUMN satu perusahaan, lalu ada juga yang dari Jepang. Sudah banyak sekali dan banyak macamnya," imbuhnya. 

Sementara, Direktur Fasilitasi Infrastruktur Fisik Bekraf Selliane Halia lshak menyatakan pedoman subsektor Aplikasi dan Gim di Kota Malang ini dibutuhkan untuk merespons masalah kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan yang dibutuhkan industri ekraf.

"Karena lulusan perguruan tinggi kita baik S1 atau S2 misalnya lulus sebagai manajemen atau IT, itu nggak bisa diterapkan. Mentah banget, lulus ya lulus. Ini yang akan diupayakan dengan Kota Malang dengan pedoman tadi, sehingga lulusan ini kepakai. Ini juga sebagai bentuk dukungan kepada kota kreatif Malang untuk menjadikan ekraf sebagai penggerak utama perekonomian Kota Malang," ungkapnya.