Suasana saat musyawarah mengenai permsalahan properti di Kantor BPSK Kota Malang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Suasana saat musyawarah mengenai permsalahan properti di Kantor BPSK Kota Malang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Banyaknya kasus-kasus penipuan maupun pengaduan mengenai permasalahan transaksi pembelian properti di Kota Malang berpengaruh pada sulitnya industri developer perumahan dalam mengembangkan usahanya.  

Hal itu diiakui Iqbal Ifrizal, Wakil Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Malang yang juga Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi), serta sebagai pelaku usaha bidang developer perumahan, beberapa waktu lalu di Kantor BPSK Kota Malang.

"Sekarang ada masalah seperti ini (kasus dugaan penipuan), dampaknya ke developer. Dulu ada tanah kavling, cepat laku. Tapi sekarang ada tanah kavling, belum ada jalan, belum ada fasilitas, nggak mau dia (pembeli). Lho pak pagarnya mana ? jalannya mana? rumahnya mana ?. Padahal dulu industri developer gampang, tapi ada masalah ini jadi lebih sulit," paparnya

Lanjut Iqbal, karenanya, mengenai permasalahan-permasalahan yang telah diadukan ke BPSK, sebisa mungkin BPSK mengupayakan untuk mendamaikan, mencari jalan tengah bagi kedua belah pihak agar bisa segera selesai. 

Sehingga, nantinya, secara investasi di Kota Malang bisa tetap aman dan investor juga tidak ragu untuk ke Kota Malang.

"Di BPSK ini ada tiga unsur, dari Aparatur Sipil Negara (ASN), konsumen maupun pelaku usaha (developer) seperti saya," bebernya.

Sementara itu, Ketua BPSK Kota Malang, Luh Eka Wulantari menjelaskan hal senada dengan Iqbal.

Jika adanya kasus pengaduan masalah properti ini, berdampak pada pembelian rumah oleh konsumen.

Namun hal tersebut menurut Eka, justru berbuah positif bagi sisi konsumen. 

Sebab, ketika konsumen saat ini melakukan pembelian rumah atau barang lainnya, mereka menjadi lebih kritis.

" Ketika membeli konsumen akan lebih kritis ada nggak jalannya, jelas nggak tanahnya, ada nggak suratnya. Hikmah dari pengaduan ini, konsumen jadi lebih kritis, nggak sekedar lihat harga yang murah," jelasnya.