Kegiatan workshop ekspor bagi pemula yang melibatkan UMKM di wilayah kerja KPw BI Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Kegiatan workshop ekspor bagi pemula yang melibatkan UMKM di wilayah kerja KPw BI Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Komunitas Eksportir Muda Indonesia (KEMI) mendorong pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk mulai menjajaki pasar ekspor. Walaupun dengan tingkat produksi yang masih terbatas, peluang menjual produk di negeri orang sangat terbuka. Terutama di negara-negara Timur Tengah.

Ketua KEMI, Kustanto mengungkapkan bahwa untuk menembus pasar ekspor, UMKM serta industri kecil dan menengah (IKM) harus dibekali pemahaman yang memadai. Baik dari segi standar produk, maupun jangkauan pasar di luar negeri. "Pasar ekspor yang peluangnya besar, ada di sejumlah negara Timur Tengah. Seperti ke Tanzania dan Maladewa, serta beberapa negara lainnya," ujar Kustanto.

"Di negara-negara tersebut, aturan standar penerimaan barang dari UMKM dan IKM di Indonesia masih mungkin dipenuhi," tambahnya, hari ini (28/8/2019). Kustanto menjadi salah satu pembicara workshop Eskpor itu Mudah yang berlangsung di gedung pertemuan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Malang. 

Dia menjelaskan, penjualan produk UMKM tidak terdampak oleh perang dagang, yang umumnya berpengaruh pada ekspor-impor skala industri. Pasalnya, meski secara nasional nilai ekspor mengalami penurunan, tetapi untuk pasar UMKM dan IKM tidak ada masalah. "Justru IKM ada peningkatan yang cukup signifikan, hingga mencapai Rp 1,4 triliun," sebutnya. 

Kustanto menegaskan agar UMKM lebih percaya diri terhadap pasar global. "Melakukan ekspor itu tidak harus menunggu besar, ada cara yang mudah. Awalnya, harus membuat produk yang standar kualitasnya bisa diterima pasar tujuan. Kemudian barang-barang itu kita titipkan dulu kepada UMKM  dan IKM yang sudah biasa melakukan ekspor," ujarnya.

Setelah itu, lanjutnya, apabila sudah bisa memenuhi kualitas dan standar,  baru mereka melakukan ekspor sendiri. "Selain itu, persoalan penting yang harus dipelajari, adalah tata cara melakukan ekspor barang. Untuk itu perlu juga mencari tahu aturan Bea Cukai, pajak, dan lain-lain," sebutnya. 

Sementara itu, Kepala Tim Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah dan Layanan Administrasi KPw BI Malang Rini Mustikaningsih mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut dilakukan untuk pelaku UMKM dan IKM di Malang Raya untuk berani mengekspor hasil karyanya ke luar negeri. "BI Malang memiliki binaan UMKM dan IKM, seperti produk makanan olahan, batik dan kopi, juga memiliki peluang untuk diekspor. Tapi masih banyak yang nggak tahu caranya," ujar Rini.

Saat ini, lanjut Rini, pendampingan terus dilakukan. "Mereka dibantu secara  teknis. Seperti membawa para pengrajin batik untuk belajar ke batik Solo, para petani kopi juga kita ajari untuk membuat kopi yang berkualitas. Semuanya kami fasilitasi, salah satunya melalui kegiatan seperti ini," pungkasnya.