Dampak Musim Kemarau, Persawahan Kepanjen Mulai Kekurangan Air

Aug 28, 2019 18:26
Persawahan di Kepanjen mulai diintai kekeringan (for MalangTIMES)
Persawahan di Kepanjen mulai diintai kekeringan (for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dampak musim kemarau cukup panjang di tahun 2019, tidak hanya membuat masyarakat di Kabupaten Malang kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari saja. 

Tapi juga, mulai membuat para petani kelabakan. 

Ladang dan persawahan mereka mulai kekurangan air dan bisa berakibat pada gagal panen.

Baca Juga : Terkuak, Data Petani Terkena Limbah Greenfields Sejak Tahun Lalu Telah Dilaporkan, Tapi...

Hal ini tidak hanya melanda wilayah Malang Selatan saja yang menjadi zona merah kekeringan setiap kali musim kemarau. 

Di wilayah perkotaan Kepanjen pun, dampak kemarau mulai terasa bagi para petani padi.

Seperti diketahui, Kepanjen merupakan salah satu sentra pangan di Kabupaten Malang. 

Baik dikarenakan luasan lahan persawahannya yang berada di posisi ketiga terluas maupun tentunya produksi padinya.

Tapi, dengan adanya musim kemarau dan sistem pengairan irigasi yang masih terkendala, berbagai persawahan di wilayah Kepanjen sudah mulai merasakan dampak kekurangan air.

Salah satunya adalah di Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen, dimana 75 hektar (ha) sawah mulai diintai kekurangan air serta ditakutkan akan berdampak pada gagal panen.

"Sekitar 75 ha lahan sawah di wilayah kami mulai kekurangan air. Padahal ada sekitar 150 warga yang menggantungkan hidupnya dari lahan persawahan atau jadi petani," ucap Sulianto Sekretaris Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen, Rabu (28/08/2019).

Sulianto melanjutkan salah satu penyebab selain kemarau panjang, adalah adanya sumbatan pada gorong-gorong yang berada di dalam sungai di wilayah Sukun, Kota Malang, yang alir airnya sampai ke Kepanjen. 

Baca Juga : Hama Tikus Bikin Buntung, Dinas Pertanian : Alat Bantuan Masih Terkendala Lelang

Hal itu menyebabkan debit air yang masuk ke wilayah Sukoraharjo, menjadi semakin kecil dan tidak mencukupi kebutuhan lahan sawah yang ada.

"Jadi kita berharap Pemkab Malang bisa segera mengatasi persoalan ini. Sehingga para petani kami tidak was-was dengan kekeringan yang melanda lahan sawahnya," ujar Sulianto.

Dari beberapa sumber yang didapatkan MalangTIMES, pola dan program pengairan irigasi ke lahan persawahan yang dilakukan oleh Pemkab Malang melalui Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) mempergunakan sistem pengaliran bergilir.

Sebuah sistem yang memungkinkan pasokan air irigasi bisa mencukupi kebutuhan petani dari hulu sampai hilir. 

Tapi, dengan kondisi musim kemarau panjang dan adanya gangguan teknis seperti yang disampaikan Sulianto, pola tersebut bisa saja tidak berjalan maksimal. 

Sehingga membuat beberapa wilayah tidak menerima pasokan air irigasi yang cukup sesuai dengan luasan area persawahan yang ada.

Salah satu narasumber di dinas PU SDA yang tidak berkenan disebut namanya, menyatakan, bahwa di musim kemarau biasanya memang ada pengurangan debit air untuk sawah. 

Dirinya juga menyampaikan, bahwa ketersediaan air untuk pertanian sering kali memang tidak mencapai kawasan pertanian hilir di musim kemarau.

"Karena itu, sebagai solusi diperlukan penataan secara berkala yang tertuang dalam rencana tata tanam (RTT). RTT ini yang mengajukan dari petani sendiri. Selanjutnya kami atur ketentuan tanamnya," ungkapnya yang juga mengatakan normal debit aliran air yang dialirkan kelahan pertanian adalah 1,2 liter per detik untuk satu ha.

Topik
MalangBerita MalangDampak musim kemarau 2019Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya AirPersawahan Kepanjen Kekurangan Air
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru