Perang tagar terus terjadi antara kubu Bubarkan Banser dan Banser Untuk Negeri. (Viva.co.id)
Perang tagar terus terjadi antara kubu Bubarkan Banser dan Banser Untuk Negeri. (Viva.co.id)

MALANGTIMES - Dunia maya dibuat heboh dalam dua hari ini. Tagar Bubarkan Banser terus mengalami lonjakan cuitan dan menyelip tagar Banser untuk Negeri.

Sampai Senin (26/08/2019), #BUBARKANBANSER telah mencatat 171 ribu cuitan dari berbagai akun warganet. Sedangkan  #BanserUntukNegeri mulai tenggelam di antara trending topic lainnya.

Tapi, dua tagar tersebut semakin panas di medsos (media sosial). Keduanya saling melontarkan sikap berseberangan. Bahkan sampai pada penghujatan-penghujatan. Beberapa tokoh yang kerap aktif di medsos pun saling kirim postingan dan saling serang.

Peta panas medsos terkait tagar Bubarkan Banser dipicu dari adanya tujuh tuntutan masyarakat Papua, seperti yang disampaikan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) terpilih asal Papua Yorrys Th. Raweyai. 

Tuntutan tersebut lahir dari adanya peristiwa bentrok mahasiswa Papua di Kota Malang dan adanya pengepungan asrama di Surabaya. Menurut kepolisian, di Papua dua peristiwa tersebut ternyata dipelintir dan mengakibatkan kesalahpahaman informasi dan hoax. Papua pun bergejolak hebat.

Hal itulah yang akhirnya disambut ramai warganet di medsos dengan dua tagar yang berlawanan. Para tokoh Banser pun tak tinggal diam menyikapi tuntutan masyarakat Papua yang meminta pemerintah untuk membubarkan organisasinya itu.

Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Nahdlatul Ulama (NU) Yaqut Cholil Qoumas, baik melalui akun medsosnya maupun langsung, mengatakan tuntutan pembubaran Banser NU bukan murni keinginan masyarakat Papua. "Ada yang bermain. Kami tahu siapa yang sedang bermain. Tunggu kondisi reda dulu dan tanggal mainnya," ucap Yaqut.

Dia  juga menegaskan bahwa Banser NU tidak terlibat penggerebekan dan tindakan rasialis di asrama mahasiswa Papua di Surabaya, beberapa waktu lalu. Bahkan, Yaqut juga menceritakan, sebelum kejadian di Surabaya, ada pihak yang menghubungi komandan Banser Jawa Timur untuk ikut serta melakukan pengepungan.

"Kami dibisiki terjadi perusakan dan pembakaran bendera Merah Putih. Tapi kawan-kawwn Banser menolak ajakan itu karena harus melakukan cek dulu dan klarifikasi berita itu," ujarnya.

Ejekan warganet yang mengusung #BUBARKANBANSER ditandingi dengan tagar lainnya. Secara cepat, #BanserMaju1Barisan mencuat dan juga menjadi trending topic. Tercatat, Senin (26/08/2019) sudah ada 10,3 ribu cuitan warganet yang meng-counter tagar Bubarkan Banser yang juga bertahan sampai berita ini ditulis.

Isu bubarkan Banser tahun 2019 ini bukanlah yang pertama, walaupun sumber isunya berbeda. Sekitar April 2019, isu bubarkan Banser juga marak di medsos terkait insiden pembakaran bendera HTI yang disebut pihak lainnya bendera tauhid.

Hal itu berbuntut panjang dan merebak pada materi ujian sekolah berstandar nasional untuk ujian pelajaran bahasa Indonesia tingkat pelajar SMP. Yakni ada soal 'bubarkan Banser'. Soal ini menjadi kontroversi lantaran dianggap mendiskreditkan Banser.