MALANGTIMES - Pembinaan terhadap kampung tematik telah berhasil dilakukan Bank Indonesia. Salah satunya Kampung Flory yang berlokasi di Desa Tridadi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pengelolaan kampung yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat itu bahkan bisa mendapatkan omzet hingga Rp 12 miliar setahun. 

Bagi wisatawan yang datang menggunakan kendaraan besar seperti bus, mesti berjalan sekitar 100 meter di perkampungan penduduk sebelum masuk ke Kampung Flory. Suasana asri sudah terasa ketika melihat rumah-rumah warga umumnya memiliki halaman luas dengan kolam-kolam ikan cantik di halamannya. 

Gemericik air di kolam-kolam terdengar menenangkan saat tiba di Kampung Flory, sebuah desa wisata yang mengandalkan sektor perikanan, pertanian, dan perkebunan. Berada di lahan seluas 6,5 hektare, ada berbagai obyek wisata yang ditawarkan. Terdapat empat zona yang bisa dipilih, di antaranya zona Taruna Tani, zona Agro Buah, zona Bali Ndeso, dan zona Dewi Flory. 

Pengembangan tanaman hias anggrek juga banyak dicari wisatawan dari kota-kota besar. (Foto: Dokumen MalangTIMES)

Masing-masing zona memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya, zona Taruna Tani yang fokus pada pertanian modern. Mereka menawarkan berbagai jenis tanaman buah dan tanaman hias seperti kebun pembibitan anggrek. Di zona itu, pengunjung juga bisa menyewa homestay atau penginapan serta mengikuti kegiatan-kegiatan pelatihan wirausaha agrobisnis.

Lalu ada juga zona Agro Bush yang menyediakan wisata petik buah langsung dari pohonnya dan wisata edukasi. Bagi pecinta kuliner, bisa datang ke zona Bali Ndeso. Bali di sini bukan Bali sebagai nama pulau, melainkan dari bahasa Jawa yang artinya kembali. Karena, di situ wisatawan bisa menikmati olahan-olahan khas pedesaan seperti lodeh jantung bunga pisang dan berbagai olahan ikan segar. 

Pendiri Kampung Flory, Sudihartono mengungkapkan bahwa awalnya dia bersama para pemuda desa setempat hanya mengembangkan sentra wisata tanaman hias. "Lalu, sejak mulai dibuka pada 2015 lalu konsepnya terus berkembang. Kami sinergikan dengan pertanian, pariwisata, pendidikan, budaya, lingkungan sama kuliner jadi satu kawasan jadi destinasi wisata unggulan lah harapannya," terangnya. 

Menurutnya, pengembangan itu menggunakan dana dari hasil pemasukan wisata di Kampung Flory. Dia merinci, pada 2018 lalu omzet yang didapatkan mencapai hampir Rp 12 miliar. "Tiap-tiap unit usaha sekarang memiliki program-program yang menarik minat wisatawan, jadi pendapatannya sudah cukup baik. Setahun sampai Rp 12 miliar, misalnya zona Bali Ndeso tahun kemarin Rp 5,2 miliar omzetnya. Dana itu selain untuk pengembangan juga untuk gaji pengelola," urainya.

Sebagian peserta Pelatihan Wartawan Ekonomi Jatim saat berfoto usai kunjungan di zona Bali Ndeso, Kampung Flory. (Foto: Dokumen MalangTIMES)

Pengembangan tersebut dilakukan bertahap. Mulai dari pembuatan taman-taman, spot swafoto, kedai-kedai kopi, wahana bermain anak, kolam dan area outbond, hingga panggung kesenian yang terletak di tepi sungai. Pasalnya, di desa tersebut mengalir Sungai Bedog yang menjadi alirannya dimanfaatkan masyarakat membuat kolam-kolam ikan. Airnya bening, sejuk dan menyegarkan tak seperti air yang mengalir di perkotaan. 

"Awalnya kami memang ingin mengangkat sungai agar ini bisa lebih dinikmati. Karena sekarang kan di banyak tempat sudah pada kotor, nah di sini sungainya masih terjaga bersih," terangnya. Dengan sungai yang mengalir tenang dan suasana perdesaan, menjadi daya tarik utama Kampung Flory. Menurut Sudihartono, banyak pengunjung yang justru mencari suasana perdesaan yang asri di Kampung Flory. 

Meski awalnya hanya melibatkan sekitar 20 pemuda desa, kini sudah ada sekitar 150 kepala keluarga (KK) yang terlibat. Mereka juga menggandeng pemerintahan desa. Pasalnya, sebagian besar lahan yang diubah menjadi spot wisata merupakan tanah milik kas desa. "Jadi kami sinergi dengan pemerintah desa, memanfaatkan tanah-tanah kas desa. Kami juga memberdayakan masyarakat," imbuhnya.

Saat ini, Sudihartono menyebut bahwa Kampung Flory bisa menarik 2-4 ribu pengunjung di akhir pekan. Kedatangan pengunjung itu, juga berdampak signifikan pada perekonomian warga sekitar. "Peningkatan ekonomi ini tentu tidak lepas dari peran perbankan yang banyak sekali sumbangsihnya. Mulai dari pelatihan, studi banding, dana juga pembangunan fisik," ujarnya. 

Kepala KPw BI Malang Azka Subhan Aminurridho saat menikmati sensasi kolam terapi ikan di Kampung Flory. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

"Mereka lebih ke mendampingi kita untuk pengelolaan marketingnya. Kita berkembang seperti ini juga berkat mereka juga sejak 2017 lalu," lanjut Sudihartono. Bahkan, desa tersebut juga menjadi salah satu percontohan destinasi wisata dengan teknologi pembayaran non-tunai. Sehingga, pengunjung bisa melakukan transaksi dengan perangkat Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). 

Kampung Flory menjadi salah satu titik kunjungan puluhan awak media yang mengikuti kegiatan Pelatihan Wartawan Ekonomi Jatim yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Kepala Kantor Perwakilan Wilayah (KPw) BI Provinsi Jawa Timur (Jatim) Difi A. Johansyah mengatakan Kampung Flory ini merupakan salah satu binaan Bank Indonesia. 
Kampung ini merupakan desa wisata yang sudah terintegrasi antara pertanian, perikanan dan pendidikan. "Juga ada outbound-nya. Ini adalah contoh yang sudah berhasil dan sudah kita terapkan juga di Jawa Timur, tepatnya di Desa Brajang, Kecamatan Trawas, Mojokerto. Konsep seperti ini juag bisa direplikasi di desa-desa wisata sehingga perekonomian warga bisa tumbuh," katanya.

Difi mengaku para pemuda di sekitar Kampung Flory memiliki kesadaran yang tinggi di sektor ekonomi. Para pemuda menilai saat ini untuk mencari uang tak hanya dilakukan dengan menjual produk pertanian, namun juga wisata pertanian.

"Bahwa jual view pemandangan, jual aktivitas, itu duitnya lebih banyak daripada jual produk pertanian. Karena kebutuhan orang untuk bisa outbond sekarang makin bertambah makin besar, anggarannya makin besar. Ini yang yang coba ditangkap disini. Oleh karena itulah BI masuk dan buat sinergi dengan mereka. Jadi intinya kalau BI masuk itu bukan dari nol, tapi bibitnya sudah ada nah tinggal kita sinergikan," tegasnya.

Sementara itu, Kepala KPw BI Malang Azka Subhan Aminurridho mengungkapkan bahwa pihaknya juga tengah menjajaki pengembangan salah satu wisata agro berbasis masyarakat di sekitar Gunung Bromo. "Saat ini masih tahap awal, kami ingin juga mengembangkan pelestarian Bunga Edelweis yang dikemas dengan sentuhan wisata," pungkasnya.