Rencana Ibu Kota Dipindah ke Kalimantan, Duo F Khawatir seperti Mobil Esemka

MALANGTIMES - Duo F, yakni Fahri Hamzah dan Fadli Zon, kembali memberikan kritik tajamnya atas rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) memindahkan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan.

Kritik yang dilontarkan duo F ini cukup menghentak dan bisa dikatakan membuat kebijakan pemindahan ibu kota menjadi perbincangan hangat lagi di dalam masyarakat.
Baik terkait rencana anggaran yang nilainya menurut Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) sampai Rp 460 triliun sampai dengan lokasi yang akan jadi ibu kota Indonesia nantinya, yaitu di Kalimantan, sesuai dengan yang disampaikan langsung oleh Jokowi.

Fadli Zon, misalnya, walau secara substansi dirinya yang mewakili Partai Gerindra menyetujui rencana tersebut sebagai bagian dalam dekonsentrasi pembangunan, memberikan catatan-catatan kritis atas hal itu.

"Kita khawatir bahwa ramainya wacana ini. Saya sebut wacana bukan rencana, karena masih begitu mentah. Sama dengan ramainya wacana mobil Esemka dulu. Heboh tapi tidak kejadian," kata wakil ketua DPR RI ini.

Fadli Zon juga mengatakan bahwa narasi pemindahan ibu kota masih miskin dan tidak ada argumen yang dibangun. Belum ada public hearing dan diskusi publik. Bahkan dalam nota keuangan RAPBN 2020 juga belum ada anggaran itu.

"Selain timing-nya tidak tepat dengan kondisi saat ini. Pertumbuhan ekonomi kita hanya 5 persen saja. Walau sekali lagi idenya bagus agar tidak Jawa sentris, ini bagi saya masih berupa wacana yang tidak matang dan amatiran," tandas nya.

Kritik Fahri Hamzah lebih menyengat lagi. Dia menyebutkan pemerintah Jokowi miskin ide. Bahkan, tidak ada ide sama sekali dengan ramainya pemindahan ibu kota Indonesia.
"Jadi, seperti omong kosong saja, kayak mobil Esemka. Saya tidak tahu para pembisiknya kenapa membuwazirkan mulut Jokowi. Mahal harga presiden itu. Karena setiap kata-katanya dan langkahnya harus dipepet sehingga akan berefek pada kebaikan nasional," ujar penggagas Garbi ini.

Rencana lokasi ibu kota baru juga, yaitu di Kalimantan, menjadi bahan kritikan Fahri. Bagi Fahri yang mengungkit konsep poros maritim Jokowi, lokasi tersebut tidak berkaitan dengan hal yang juga ramai dibicarakan waktu lalu.
"Pindah kok ke daratan yang kaya, daratan yang tidak nyambung dengan konsep maritim. Seharusnya kalau mau pindahkan ibu kota, pindah dari Asia ke Pasifik. Pindah ke Papua," tegasnya.

Dia juga menyebut kalau Jakarta yang dicabut, maka roh Indonesia akan hilang. "Terus kita di daerah baru akan cerita apa, cerita ekonomi?" imbuhnya.

Fahri meminta kepada para pembisik untuk mengajak presiden bekerja secara benar. "Jangan dibiarkan jalan sendiri, mikir sendiri. Kasihan juga kan," tandas nya.

Kritikan dari duo F tersebut dibalas oleh Teuku Taufiqulhadi, anggota DPR Komisi III Fraksi NasDem. Dia menyatakan bahwa terhadap rencana pemindahan ibu kota, telah dilakukan beberapa kali kajian. Bahkan dirinya yakin rencana tersebut telah matang dan akan dikerjakan.

"Saya yakin telah matang dan ini rencana serius, bukan sekedar wacana. Kita bahkan mengapresiasi keberanian Pak Jokowi atas gagasan itu," ujarnya.

Taufiqulhadi juga mencontohkan bahwa pemindahan ibu kota dilakukan oleh berbagai negara. Bahkan, sekarang ada sekitar 40 negara di berbagai belahan dunia sedang mempertimbangkan relokasi ibu kotanya.
"30 negara lainnya bahkan telah melakukan hal itu. Jadi, saya pikir ini bukan sekadar wacana dari Pak Jokowi," ucap dia.

 

Top