MALANGTIMES - Masyarakat Kabupaten Malang, untuk sementara bisa melupakan atas harga cabai yang masih melejit tinggi di berbagai pasar daerah. Di tengah maraknya berbagai kegiatan merayakan hari ulang tahun ke-74 Republik Indonesia yang menguras perhatian masyarakat luas.

Begitu pula para pedagang makanan yang biasanya menjajakan hidangan dengan menu sambal pedas. Baik pedagang lalapan maupun rumah makan Padang di berbagai wilayah Kabupaten Malang. 

Mereka mulai bisa menyiasati tingginya harga cabai, setelah hampir dua bulan ini masih menjadi bertahan di kisaran Rp 75 ribu sampai Rp 80 ribu per kilogram (kg)-nya.

Padahal, harga normal cabai biasanya di bawah Rp 20 ribu per kg di berbagai pasar daerah Kabupaten Malang. Hal ini disampaikan oleh Hasan Tuasikal Kepala Bidang (Kabid) Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang, yang menyatakan, harga normal cabai memang biasanya di bawah Rp 20 ribu.

"Tapi memang sudah hampir 2 bulan ini harga cabai dikisaran Rp 80 ribu. Ini dikarenakan karena faktor cuaca yaitu kemarau panjang," ucapnya beberapa waktu lalu.

Pihaknya, berusaha untuk menstabilkan harga cabai di wilayahnya dengan cara melakukan koordinasi dengan pihak Bulog dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI). Selain itu juga akan melakukan operasi pasar dengan mendatangkan cabai dari daerah lain.

"Kita rencanakan untuk datangkan cabai dari Kediri untuk operasi pasar," ujar Hasan.
Sayangnya, beberapa langkah yang telah disampaikan Disperindag Kabupaten Malang itu, sampai saat ini belum mampu menjinakkan harga cabai yang masih sangat panas bagi dompet masyarakat.

Dari data di beberapa pasar daerah Kabupaten Malang, harga cabai rawit masih tetap bertahan kuat seperti beberapa bulan lalu. Di Pasar Kepanjen, misalnya, cabai rawit masih bertahan diangka Rp 80 ribu. Sama dengan di pasar Karangploso, Singosari dan Turen. Hanya di pasar Lawang, cabai rawit lebih murah dibandingkan 4 pasar daerah tersebut. Yakni 1 kg-nya masih dijual sebesar Rp 75 ribu.

Jenis cabai lainnya, yaitu cabai keriting pun rata-rata masih bertengger dengan harga Rp 55 ribu yang paling murah, yaitu di pasar Karangploso dan pasar lainnya masih Rp 57-60 ribu per kg-nya. Sedangkan untuk cabai biasa rata-rata masih bertahan di harga Rp 55-58 ribu per kg-nya di 5 pasar besar yang dimiliki pemerintah Kabupaten Malang ini.

Kondisi tersebut secara langsung mempengaruhi para penjual makanan dengan menu sambal. Saat masyarakat merayakan kemerdekaan ke-74, para pedagang harus bersiasat untuk tetap menampilkan menu sambal yang masih terasa pedasnya di lidah para pembeli. Baik dengan cara menghemat porsi sambalnya ataupun dengan mencampur cabai dengan bahan lainnya, seperti merica.

"Harus pintar-pintar mas dengan harga cabai yang tidak turun-turun ini. Kita kurangi tingkat kepedasannya dan juga porsi sambelnya," kata Azrul pemilik rumah makan padang di wilayah Kepanjen, Minggu (18/08/2019) kepada MalangTIMES.

Dirinya juga menyampaikan, pembeli memang ada yang protes, tapi mereka juga memahami kondisi harga cabai saat ini. "Ya protes tapi mereka faham dengan harga cabai sekarang. Kita juga tidak menaikkan harga makanan hanya karena cabai mahal," ujarnya.

Di kesempatan yang sama, Moh Alim pecinta masakan pedas secara berseloroh juga mengatakan, bahwa dirinya ternyata masih belum merdeka di hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-74 ini.

"Belum merdeka karena masih dijajah cabai yang harganya selangit. Akhirnya saya yang harus menyesuaikan diri dengan hal itu," ujarnya sambil tertawa.