Mahasiswa Peternakan Kembangkan Bakteri untuk Atasi Penyakit Patek yang Menjadi Momok Petani Cabai Rawit

Aug 17, 2019 20:18
Bio Antracs. (Foto: istimewa)
Bio Antracs. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Penyakit patek atau antraknosa pada tanaman cabai menjadi momok para petani cabai. Penyakit ini disebabkan oleh jamur patogen.

Baca Juga : Terkuak, Data Petani Terkena Limbah Greenfields Sejak Tahun Lalu Telah Dilaporkan, Tapi...

Jamur ini dapat menginfeksi benih, bibit, buah cabai muda, sampai buah cabai hampir matang. Bahkan dalam penyimpanan pascapanen antraknosa masih dapat menyerang.

Serangan jamur ini menyebabkan buah cabai busuk dan gugur (rontok) dengan gejala yang tidak jauh berbeda. Serangan penyakit antraknosa pada tanaman cabai tersebar luas di seluruh dunia. 

Banyaknya cabai yang terkena serangan penyakit antraknosa (patek) oleh jamur patogen ini menyebabkan inflasi. Perlu diketahui, cabai rawit menjadi komoditas hortikultura penyumbang inflasi sebesar 0.08 persen dari 3.2 persen inflasi nasional (Bank Indonesia, 2018). 

Penyakit antraknosa pada cabai rawit mampu menurunkan produksi sebesar 50 persen hingga 90 persen per ha. Pengendalian penyakit oleh petani dengan fungisida cenderung belum efektif dan menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan.

Oleh karena itu, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) Cindy Diah Ayu Fitriana, Nava Karina, dan Achmad Roekhan di bawah bimbingan Luqman Qurata Aini SP MSi PhD melakukan pengembangan bakteri kitinolotik UB Forest yang memiliki kemampuan cepat dan tepat dalam menghambat patogen Colletotrichum capsici penyebab antraknosa.

Baca Juga : Hama Tikus Bikin Buntung, Dinas Pertanian : Alat Bantuan Masih Terkendala Lelang

Salah satu anggota tim Achmad Roekhan mengatakan bakteri kitinolitik yang ada di UB Forest lebih aktif dibanding dari perairan. Sehingga lebih aplikatif apabila diimplementasikan dibidang pertanian. "Umumnya bakteri kitinolitik itu ditemukan di perairan. Dari 78 bakteri yang ada di UB forest, 76 di antaranya adalah bakteri kitinolitik," katanya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh tim, bakteri kitinolitik UB Forest memiliki kemampuan menghambat jamur Colletotrichum capsici penyebab antraknosa dengan presentase penghambatan hingga 100 persen. "Keunggulan bakteri kitinolitik dalam mengatasi penyakit antraknosa lebih efektif dibandingkan fungisida karena bakteri kitinolitik memiliki kemampuan yang cepat dalam melisis dinding sel patogen yang komponen utama berupa kitin sebesar 22-40 persen," bebernya.

Oleh karena itu, pemanfaatan bakteri kitinolitik UB Forest sebagai mikroba antagonis yang berperan sebagai green technology berbasis agens hayati perlu dikembangkan dan diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan antraknosa serta mendukung implementasi pertanian yang berkelanjutan. 

Topik
MalangBerita MalangMahasiswa Peternakan UB malangPenyakit patekantraknosa pada tanaman cabaitanaman cabaicabaipetani cabai

Berita Lainnya

Berita

Terbaru