Para penyandang tuna netra di Malang saat mengikuti lomba-lomba di UPT RSBN Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Para penyandang tuna netra di Malang saat mengikuti lomba-lomba di UPT RSBN Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Euforia dan kegembiraan menyambut hari kemerdekaan dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat. 

Termasuk para penyandang tuna netra di Kota Malang. 

Baca Juga : Tundukkan Rasa Takut untuk Kemanusiaan, Ini Kisah Bripka Jerry yang Banjir Apresiasi

Mereka tampak bergembira saat mengikuti rangkaian lomba-lomba khas Agustusan untuk merayakan HUT ke-74 RI. 

Hari ini (16/8/2019) sebanyak 105 warga penyandang tuna netra mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra (RSBN) Malang. 

Mereka tampak antusias mengikuti lomba baris-berbaris, sepakbola menggunakan tangan, lomba jepit balon sambil berjoget, lomba estafet air, lomba senam tongkat dan lain-lain. 

Instruktur Olahraga UPT RSBN Malang, Ribut Budiono mengungkapkan bahwa lomba-lomba itu tak hanya untuk memeriahkan bulan kemerdekaan. 

Tetapi juga untuk melatih motorik para penyandang tuna netra agar mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. 

"Selain itu juga untuk memacu kepercayaan diri mereka, menumbuhkan semangat bahwa dalam keterbatasan pun mereka bisa ikut bergembira," ujarnya. 

Ribut mengatakan bahwa perlombaan yang dipilih telah disesuaikan dengan kondisi para peserta. 

Artinya, yang tetap bisa mereka lakukan dengan keterbatasan fisik yang ada. 

"Perlombaan yang kami adakan tidak sembarangan. Lomba ini kami kemas untuk melatih motorik dan kepekaan mereka," ujarnya.

Untuk lomba baris-berbaris, dibutuhkan persiapan selama kurang lebih satu minggu.

Menurut Ribut, butuh pembinaan khusus untuk melatih kedisiplinan dan kekompakan para penyandang tuna netra. 

Baca Juga : Glenn Fredly Meninggal Dunia Tepat setelah 40 Hari Kelahiran Anak Pertamanya

"Dalam melatih baris berbaris tentu susah. Untuk itu, kami memberikan pembinaan kebersamaan. Bagaimana caranya teman-teman yang lain bisa mengikuti instruksi dan bisa beriringan bersama," tuturnya.

Dalam lomba tersebut, para penyandang tuna netra dibagi dalam delapan tim. 

Mereka mengikuti baris berbaris dengan menggunakan tongkat dan memegang pundak temannya. 

Kemudian, berjalan mengikuti instruksi layaknya pasukan baris berbaris. Mereka juga mengenakan atribut unik. 

Seperti menggunakan pakaian dengan kresek, berdandan ala kelinci dan masih banyak lagi.

Salah satu peserta lomba, Rizal Setiawan merasa kesulitan untuk mengikuti lomba tersebut. Utamanya, saat mengikuti aba-aba. 

"Semua disini tuna netra. Sebenarnya, dalam.lomba ada hitungan tersendiri. Kami bingung, nggak tahu teman kita salah atau tidak," jelas dia.

Meski demikian, ia mengaku senang bisa mengikuti rangkaian lomba yang ada dan larut dalam euforia hari kemerdekaan. 

"Rasanya senang, bisa menjalin kebersamaan dengan teman-teman," pungkasnya.