Saat Warga Kampung di Malang Memerdekakan Diri dari Polusi Perkotaan

Aug 16, 2019 18:32
Kegiatan kerja bakti warga RW 07 Kelurahan Sukoharjo, Kota Malang memanfaatkan lahan terbuka menjadi taman. (Foto: Dokumentasi warga)
Kegiatan kerja bakti warga RW 07 Kelurahan Sukoharjo, Kota Malang memanfaatkan lahan terbuka menjadi taman. (Foto: Dokumentasi warga)

MALANGTIMES - Masalah polusi udara perkotaan menjadi isu yang tengah marak dibicarakan beberapa waktu terakhir. 

Namun, warga RW 07 Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang punya cara tersendiri untuk memerdekakan diri dari polusi. 

Baca Juga : Forkopimda Kota Malang Semprotkan Disinfektan dari Udara dengan Drone

Berada di tengah Kota Malang yang semakin hari semakin padat, kawasan RW 07 juga kerap disebut Kampung Kidulpasar. 

Pasalnya, lokasi kawasan tersebut berada di sisi selatan Pasar Besar yang merupakan salah satu pusat perekonomian Kota Malang. 

Selain itu, letaknya juga berdekatan dengan Pasar Comboran yang identik dengan komoditas barang bekas dan onderdil otomotif. 

Namun, tampilan Kampung Kidulpasar tak seperti kebanyakan kampung padat penduduk di dekat pasar. 

Suasananya asri, rindang dan sejuk. Rumah-rumah warga dan jalan-jalan kampung terlihat bersih, tak tampak sampah tercecer di gang-gang rumah penduduk. 

Hampir di semua halaman rumah warga, terdapat tanaman hijau. Baik bebungaan hias, maupun sayur mayur dan buah-buahan dalam pot. 

Lahan yang terbuka pun disulap menjadi taman yang hijau dan segar. Seperti Taman PKK yang terletak di tengah-tengah permukiman warga.

Beberapa sudut kampung pun disulap menjadi titik-titik swafoto. 

Selain sejuk, kampung juga terkesan cerah, terang, dan ceria. 

Ditambah lagi keberadaan satu taman bermain kecil yang menjadi ruang bermain bagi anak-anak. 

Tawa riang anak-anak yang bermain di lingkungan kampung membuat suasana tampak hidup dan riang gembira. 

Ketua RW 07 Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Achmad Zakaria mengungkapkan bahwa mengubah perkampungan padat yang cenderung kumuh menjadi lingkungan sehat tidak terjadi dalam semalam. 

Butuh waktu sekitar empat tahun dan kegigihan untuk mengajak warga satu semangat mengubah wajah kampung. 

"Yang lama itu membangun kesadaran seluruh warga untuk bersemangat menyehatkan lingkungan bersama-sama. Tapi saat ini, warga sudah merasakan dampak positifnya, sehingga tanpa diajak pun mereka berinisiatif untuk menjaga lingkungan kampung ini," ujar Achmad. 

Sejak dipercaya menjadi ketua RW sejak tahun 2015 lalu, ia tergerak untuk membangkitkan semangat warga sekitar untuk merawat kampungnya. 

"Awalnya, saya tidak langsung mengajak mengubah lingkungan. Tetapi diawali perubahan mindset masyarakat terlebih dahulu, agar semua mau merawat kampungnya," paparnya. 

Baca Juga : DLH Kota Malang Bekali Petugas dengan APD Hindari Tertular Corona

Tak hanya membutuhkan waktu, tenaga dan biaya pun mesti dikeluarkan untuk menyulap tampilan kampung. Achmad tak merogoh kocek sendiri. 

Dia melibatkan masyarakat dengan iuran agar semua merasa memiliki dan ikut andil dalam menata kampung. 

"Saya tidak pernah meminta sumbangan dengan mematok iuran dengan jumlah tertentu, sukarela saja. Ada yang Rp 10 ribu hingga ratusan ribu," tuturnya. 

Uang iuran dari sekitar 1.800 warga di 9 RT itu akhirnya terkumpul dalam jumlah yang cukup banyak. 

"Dana yang terkumpul tersebut digunakan untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Mulai dari Balai RW, fasilitas ruang bermain anak, membangun bank sampah dan lainnya. Apa-apa yang jadi prioritas ini dirundingkan bersama," tuturnya.

Sejak saat itu, lanjut Achmad, masyarakat antusias dengan sendirinya. 

"Melihat hasilnya kampungnya bersih, masyarakat menjadi sangat bersemangat. Sampai-sampai banyak inovasi yang diciptakan. Akhirnya, ada fasilitas tempat selfie, Taman PKK dan masih banyak lagi," sebutnya.

Tak hanya itu, wilayah tersebut juga menerima bantuan program Kotaku (Kota Tanpa Kumuh) dari pemerintah pusat. 

Dana yang didapat, digunakan untuk membangun jalan kampung, biopori dan biofil di dalam lingkungan kampung.

"Selain itu, kami juga mengajak masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah. Mana sampah yang bisa diolah menjadi kompos dan mana yang bisa di recycle dan dibuat kerajinan. Nanti akan dikumpulkan di bank sampah," terangnya. 

Selain membangun berbagai fasilitas secara mandiri, warga RW 07 Kelurahan Sukoharjo juga mendapat bantuan dari Bank BRI melalui program CSR. 

Mereka mendapatkan sebanyak 40 CCTV yang dipasang di sekitar lingkungan kampung. 

"Kami juga memiliki 5 pos pantau. Satu pos bisa memantau sebanyak 8 CCTV," pungkasnya. 

Topik
MalangBerita Malangpolusi udara perkotaanpusat perekonomian Kota MalangKerja Bakti

Berita Lainnya

Berita

Terbaru