Kedua tersangka kasus penipuan berskala internasional (baju oranye) saat sesi rilis di halaman Polres Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Kedua tersangka kasus penipuan berskala internasional (baju oranye) saat sesi rilis di halaman Polres Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Keputusan Rina Liffriyanti untuk merajut asamara bersama kekasihnya yang berasal dari negara Nigeria, Ekenke Ugwuanyi akhirnya berbuah petaka. 

Perempuan asli Kecamatan Jakabaring, Kota Palembang ini, diringkus bersama kekasihnya lantaran terlibat kasus penipuan online berskala internasional.

Seperti yang sudah diberitakan, awal pekan lalu kedua pelaku penipuan tersebut, berhasil diringkus Satreskrim Polres Malang ketika keduanya berada di Kecamatan Beji, Kota Depok.

Kedua tersangka diringkus polisi karena telah melakukan penipuan online terhadap AM (inisial) warga Kelurahan Kemantren, Kecamatan Jabung.

Akibat aksi penipuan yang melibatkan warga Nigeria tersebut, pria 30 tahun itu mengalami kerugian hingga Rp 36 juta.

Berdasarkan hasil penyidikan polisi, aksi penipuan tersebut terjadi pada awal bulan juli lalu. 

Semula AM sempat berkenalan dengan salah satu komplotan penipu yang mengaku bernama Tonia Rawson melalui aplikasi Speaky.

Dalam perkenalannya melalui aplikasi tersebut, pelaku mengaku sebagai seorang Dokter Genelogis di Lenox, Newyork, USA. 

Tidak lama setelah perkenalan itu terjalin, keduanya akhirnya sepakat untuk bertukar nomor WhatsApp.

Belakangan diketahui pelaku men-chat korban menggunakan nomor telphone dari negara Amerika. 

Selain melalui aplikasi chatting WhatsApp, pelaku juga intens menghubungi korban melalui aplikasi Hangout. 

Percakapan melalui kedua aplikasi tersebut, sempat terjalin selama dua pekan.

Hubungan pertemanan keduanya yang semakin intens, membuat pelaku akhirnya menawarkan untuk memberikan hadiah untuk korban dan ibunya. Merasa curiga, AM saat itu sempat menolaknya.

Seolah tidak kehabisan akal, pelaku yang mengaku bernama Tonia Rawson itu mengirim foto melalui aplikasi chatting. 

Foto yang dikirim pelaku adalah gambar sebuah koper yang diakui berisi hadiah untuk korban dan ibunya.

Guna memuluskan aksinya, pelaku juga sempat menyematkan bukti pengiriman paket melalui link www.desalliedexpress.com. 

Link pengiriman barang yang diketahui merupakan situs fiktif itu, dikirim pelaku melalui aplikasi chatting whatsApp pada 19 Juli lalu.

Setelah mengirim gambar berupa koper kepada korban. 

Pelaku juga memberi tahu kepada AM jika koper yang dikirim pelaku berisi uang senilai 34.600 Dolar USA atau setara dengan Rp. 468 juta.

Tiga hari berselang, tepatnya pada 22 juli korban yang terus didesak untuk mengambil hadiah akhirnya iseng untuk membuka link yang dikirim oleh pelaku. 

Ketika dicek, paketan misterius itu dinyatakan jika sudah sampai di negara Indonesia, tepatnya di wilayah Bali.

Setelah mengecek melalui situs abal-abal tersebut, pada tanggal 23 juli pelaku tiba-tiba ditelphone oleh nomor tak dikenal. 

Dalam pengakuannya, si penelpon mengatakan jika dirinya adalah seorang kurir pengiriman Desline Carvis Cargo yang bernama Rina Liffriyanti.

Korban yang mulai percaya, akhirnya segera menanggapi beberapa pertanyaan dari kurir tersebut. 

Selain mengabarkan jika paketan telah tiba di Indonesia, sang pelaku yang menyamar sebagai kurir ini juga memberitahukan jika paket miliknya dikawal oleh seorang agen yang diketahui merupakan pelaku Ekene.

Guna mendapatkan paketan miliknya, pria yang berusia kepala tiga itu diharuskan untuk membayarkan sejumlah uang. 

Pertama korban diminta mentransfer uang senilai Rp 12.750.000, untuk pembayaran pengiriman paket, cukai, dan asuransi. 

Beberapa hari kemudian, korban juga diminta untuk mentransfer sejumlah uang lantaran paketan yang hendak dikirim berisi uang yang nominalnya lebih dari Rp 100 juta.

Guna merealisasikan pengiriman paket hadiah misterius itu, korban diminta untuk meneransfer uang untuk pengurusan sertifikat senilai Rp Rp 25.250.000. 

Sejumlah uang yang jika di total mencapai Rp 36 juta itu, ditansfer ke nomor rekening atas nama Oyah Siti Rokoyah.

Kenyataannya usai uangnya ditransfer oleh korban, hingga 25 juli barang yang dijanjikan tak kunjung diterima korban. 

Hingga akhirnya, pria 30 tahun itu memilih untuk melaporkan kejadian penipuan yang menimpanya ke Polres Malang. 

Polisi yang dikerahkan ke lapangan, akhirnya berhasil membongkar jaringan penipuan online berskala internasional tersebut.

Dengan menggunakan bahasa inggris, tersangka Ekenke mengaku aksi penipuan online yang dilakukan bersama kekasihnya ini, sudah dilancarkan keduanya sejak 6 bulan lalu.

”Sebelumnya saya sudah pernah tinggal di Indonesia, saya tinggal di sini (Indonesia) menggunakan visa turis yang berlaku selama 1 tahun. Namun penipuan yang saya lakukan terjadi sejak 6 bulan lalu,” kata tersangka Ekenke saat ditemui MalangTIMES.com disela-sela agenda rilis, Jumat (16/8/2019) siang.

Ditemui disaat bersamaan, tersangka Rina mengaku jika awal mula pertemanannya dengan Ekene terjadi saat keduanya bertemu di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta pusat.

”Semenjak pertemuan itu, kami sempat berkenalan hingga akhirnya kami berpacaran. Hingga saat ini kami resmi berpacaran selama dua tahun,” kata tersangka Rina.

Setelah beberapa lama menjalin komitmen, lanjut Rina, keduanya akhirnya sepakat untuk melancarkan aksi penipuan. 

”Saya berperan sebagai petugas cargo pengiriman barang di Indonesia, sedangkan dia (Ekene) berperan sebagai agen yang mengawal paketan dari luar negeri tersebut,” terang perempuan 42 tahun ini.

Di sisi lain, Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung mengaku masih terus melakukan pendalaman akan kasus penipuan online berskala internasional tersebut. 

Diduga jumlah korban yang disasar kedua tersangka diperkirakan mencapai puluhan.

Sedangkan pelaku yang terlibat dalam jaringan penipuan ini diperkirakan berjumlah 4 orang.

”Kedua tersangka kami jerat pasal 378 KUHP dan kami juncto-kan dengan pasal tentang Undang-undang ITE. Ancamannya maksimal 10 tahun kurungan penjara,” pungkasnya.