Dosen Fakultas Teknik UB, Eka Maulana ST MT MEng saat menyampaikan materi dalam Workshop PPK SMP di Aula Dinas Pendidikan Kota Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Dosen Fakultas Teknik UB, Eka Maulana ST MT MEng saat menyampaikan materi dalam Workshop PPK SMP di Aula Dinas Pendidikan Kota Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dalam rangka penguatan pendidikan karakter siswa, sebanyak 110 guru SMP Negeri dan Swasta mengikuti Workshop Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Aula Dinas Pendidikan Kota Malang selama dua hari ini (14-15/8/2019). 

Salah satu pemateri yakni Dosen Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang Eka Maulana ST MT MEng.

Eka yang pernah merasakan secara langsung bagaimana pendidikan karakter di Jepang diaplikasikan memberikan pengalamannya kepada guru-guru di Kota Malang.

Untuk diketahui, pemerintah saat ini fokus pada pengembangan implementasi PPK secara mandiri. Implementasi PPK tersebut dilakukan penuh oleh seluruh sekolah. Tak terkecuali sekolah-sekolah di Kota Malang.

Menurut Eka, siswa perlu dibekali keterampilan abad 21 untuk membangun generasi emas 2045. 

Keterampilan abad 21 yang dibutuhkan setiap siswa selain literasi dasar dan kompetensi adalah kualitas karakter. 

Artinya, bagaimana siswa beradaptasi pada lingkungan yang dinamis.

"Kualitas karakter yang dibutuhkan yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas," ujar Eka kepada 50 guru SMP, Kamis (15/8/2019).

Seperti yang kita tahu, pendidikan karakter di Jepang begitu kuat. Hal ini menurut Eka terbentuk dari kebiasaan yang akhirnya menjadi budaya.

"Jadi secara basic di sana itu dimulai dari pembiasaan, apapun itu, entah membuang sampah, tata tertib antri, entah makan bersama, entah bersih-bersih, self service, dan lain-lain," ujarnya.

Untuk itu hasilnya juga tidak bisa diperoleh secara instan. Namun, Indonesia bisa mencontoh hal-hal positif tersebut.

"Nilai-nilai kebersamaan, nilai-nilai karakter, yang sifatnya pembentukan kesadaran itu tidak bisa instan," tandasnya.

Semua itu ada tahapnya sampai menjadi budaya. Jadi butuh waktu dan harus dibiasakan sedari kecil.

"Semua itu bisa dilatih di sekolah," imbuhnya.

Penguatan pendidikan karakter di jenjang SMP sendiri menurut Eka arahnya bukan lagi personal, melainkan ke arah lingkungan.

"Contohnya menanam pohon atau pengelolaan sampah," ucapnya.

Selain itu, pengembangan bakat juga sebaiknya mulai dibangkitkan di SMP.

"Mulai menghargai bakat-bakat anak-anak. Mulai pengembangan karakter untuk interpersonal skill itu bisa mulai dibangun di situ," jelasnya.

Jadi, bakat-bakat anak di SMP sebaiknya difasilitasi. Sehingga pada saat SMA tinggal memupuk dan waktu kuliah tinggal mengembangkan.

Kasi Peserta Didik dan Kurikulum Dinas Pendidikan Dodik Teguh Pribadi yang membuka workshop tersebut menyampaikan, Eka dipilih sebagai pemateri lantaran pernah terjun sendiri ke Jepang melihat bagaimana pendidikan karakter di sana.

"Ini adalah orang yang benar-benar terjun langsung ke lapangan. Jadi benar-benar tahu langsung. Harapannya ilmu itu diberikan kepada teman-teman," ujarnya kepada MalangTIMES.

Dalam workshop tersebut, para guru juga diberikan sosialisasi mengenai lomba PPK. 

Dinas Pendidikan mengadakan lomba tersebut guna melihat sejauh mana sekolah-sekolah di Kota Malang melaksanakan PPK.

"Ini kita lombakan. Dengan adanya lomba kan mereka akan berbuat semaksimal mungkin untuk aplikasi atau penerapan PPK di sekolahan masing-masing," jelas Dodik.