MALANGTIMES - Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor di pasar modal Indonesia mencapai 1,8 juta orang, sekitar 40 persennya perempuan. Di Bhumi Arema sendiri, peluang emas masih sangat terbuka bagi para Aremanita (Arek Malang Wanita) untuk ikut melantai di bursa berjangka. 

Meski terkesan kental dengan nuansa maskulin, Pimpinan Cabang PT Bestprofit Futures (BPF) Malang Andri Phung mengungkapkan bahwa investasi dalam bursa berjangka bukan hal yang tabu bagi kaum wanita. Investasi pasar komoditas ini bahkan digadang memberikan margin yang jauh lebih besar dibandingkan saudaranya, bursa saham. 

Dari sisi nasabah baru, Andri menyebut bahwa pada semester pertama 2019 ini, BPF berhasil menarik 1.203 nasabah baru. "Angka ini juga meningkat 10,57 persen dibandingkan semester pertama di tahun lalu. Pertumbuhan nasabah baru ini menunjukkan kepercayaan nasabah yang terus meningkat dan juga literasi terhadap perdagangan berjangka yang semakin baik," paparnya.

Meski demikian, Andri mengatakan jika jumlah nasabah perempuan memang masih belum sebanyak laki-laki. "Jumlah nasabah baru perempuan memang masih minim. Dari pertumbuhan tersebut, partisipasinya baru di kisaran 20 persen," terangnya. 

Ada sejumlah faktor yang menurutnya membuat para wanita masih terkesan takut berinvestasi di bursa berjangka. Misalnya, dari sisi literasi yang masih kurang. "Bagaimanapun pemahaman perdagangan berjangka komoditi (PBK) masih kurang, baik di masyarakat awam termasuk di kalangan perempuan. Mungkin berbeda dengan laki-laki yang akrab dengan dunia pasar modal," sebutnya.

Meski demikian, Andri mengaku optimis bahwa nantinya keterlibatan investor perempuan akan semakin meningkat. "Melihat pertumbuhan di semester satu, kami yakin nanti di semester dua ini akan pesat progresnya. Karena trennya bertumbuh terus, prediksi kami nanti partisipasi wanita di akhir tahun bisa range 30-40 persen. Kami sangat optimis," paparnya.

Dia menguraikan bahwa BPF Malang melakukan sejumlah strategi untuk meningkatkan jumlah nasabah wanita. Salah satunya, dengan banyak menerjunkan wakil pialang berjangka (WPB) perempuan. "Dari 13 orang WPB kami di Malang ini, 40 persen perempuan. Dan mereka semua sudah tersertifikasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) RI," sebutnya.

Dengan mengerahkan WPB perempuan, lanjut Andri, pendekatan pada calon nasabah dinilai lebih mudah dilakukan. "Kan biasanya perempuan cocok dengan sesama perempuan. Nasabah wanita biasanya sukar bercerita atau bertanya kalau belum paham, tapi kalau dengan sesama maka dia tidak sungkan bertanya," tuturnya. 

Langkah kedua, yakni membuka kesempatan lulusan SMK yang dominan perempuan. "Rata-rata siswa jurusan akutansi kan perempuan, mereka bisa menjadi Asisten WPB sebagai business consultan. Sejak awal 2019 lalu, kami sudah mendapatkan lebih dari 50 orang dengan sistem member get member," paparnya. 

Andri menyebut, pihaknya juga memahami psikologis perempuan yang umumnya takut mencoba hal baru. Terutama dalam sisi investasi, karena banyak yang memilih membeli barang-barang seperti emas perhiasan sebagai tabungan. "Tapi kami memberikan fasilitas simulasi transaksi dengan menggunakan demo account, melihat bagaimana sistem bursa berjangka ini bekerja, cara transaksi, sekaligus berkonsultasi," terangnya.

"Kalau benar-benar sudah paham, mereka baru buka account. Dan tidak langsung dilepas begitu saja, secara berkala akan ada edukasi dari WPB sehingga nasabah bisa mendapatkan keuntungan maksimal dari transaksi yang dilakukan," katanya. Ada juga review dan konfirmasi silang dari BPF untuk memastikan WPB benar-benar melakukan pendampingan nasabah. 

Andri memastikan, masalah gender tidak berpengaruh pada kesuksesan seseorang meraup untung di lantai bursa berjangka. "Tidak ada pengaruh, baik laki-laki atau wanita semua punya kesempatan yang sama. Ini sangat mudah dan justru merupakan peluang emas bagi perempuan untuk tetap mandiri secara ekonomi meski tidak bekerja di luar rumah," tegasnya. 

Selama ada jaringan internet, Andri memastikan seluruh nasabah bisa melakukan transaksi. "Nasabah juga tidak bersentuhan langsung dengan bursa. Dia online trading, sehingga dia berinteraksi melalui gadget atau laptop sambil misalnya di rumah bersama anak pun bisa, sambil jalan-jalan keliling dunia pun bisa," sebutnya.

Nasabah BPF juga mendapatkan berbagai keuntungan khusus. Misalnya menyediakan fitur-fitur tradework untuk menghilangkan sisi emosional investor. Ada departemen riset yang melakukan analisa fundamental di pasar bursa berjangka. "Setiap pagi sebelum pasar buka, sekitar pukul 05.00 WIB kami menyediakan berita terkini kondisi pasar riil. Sehingga nasabah bisa mempelajari, mau jual atau mau beli. Jadi keputusan itu berbasis data, bukan semata feeling. Nasabah perempuan, juga laki-laki sangat terbantu," tuturnya.

Nilai plus lain yang ditawarkan, yakni dari sisi keamanan transaksi. BPF memiliki 10 kantor cabang yang tersebar di Jakarta (2 kantor), Malang, Bandung, Surabaya, Medan, Pekanbaru, Jambi, Pontianak, dan Banjarmasin. Selain kantor layanan untuk menjangkau nasabah, Perseroan juga telah memfasilitasi sistem transaksi perdagangan berjangka dengan SITNA atau Sistem Informasi Transaksi Nasabah yang telah disediakan oleh Kliring Berjangka Indonesia  (KBI) dan Bursa Berjangka Jakarta. 

Dengan adanya SITNA, setiap transaksi kontrak berjangka yang tercatat di bursa berjangka dapat dipantau oleh nasabah kapan pun dan di mana pun. "Di Indonesia ini total ada sekita 65 perusahaan pialang. Tapi kami punya SITNA, dan ini kan era transparansi yang bisa dicek langsung oleh nasabah. Transaksi nasabah dijamin KBI, artinya sudah dijamin oleh pemerintah. Sistem ini juga memisahkan antara rekening nasabah dengan rekening perusahaan, amit-amit jika terjadi sesuatu pada perusahaan maka nasabah akan tetap aman dan tidak terimbas," urainya.

PT BPF mencatatkan progres pertumbuhan positif pada semester I 2019 ini. Perusahaan tersebut membukukan total volume transaksi 492.475 lot. Angka tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 23,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Andri mengungkapkan bahwa volume transaksi tersebut mengalami kenaikan sebesar 23,68 persen dibandingkan 2018 lalu yang mencatatkan angka 398.188 lot. "Produk bilateral atau SPA menjadi pendorong pertumbuhan dengan total volume transaksi sebanyak 446.963 lot atau meningkat 23,94 persen," ujarnya.

Dia menguraikan, transaksi bilateral masih mendominasi menjadi pendorong utama. "Transaksi bilateral memberikan kontribusi sebesar 90,75 persen dari seluruh total volume transaksi. Sementara untuk total volume transaksi multilateral (komoditi) sebanyak 45.512 lot atau tumbuh 21,17 persen dibandingkan semester pertama 2018 lalu," pungkas nya.