Keseruan  para siswa MTsN 6 Kepanjen bersama wali muridnya dalam acara batik masal dalam merayakan HUT Kr-74 Kemerdekaan Indonesia. (Nana)
Keseruan para siswa MTsN 6 Kepanjen bersama wali muridnya dalam acara batik masal dalam merayakan HUT Kr-74 Kemerdekaan Indonesia. (Nana)

MALANGTIMES - Merayakan Hari Ulang Tahun Ke-74 Kemerdekaan RI, masyarakat di Kabupaten Malang menggelar berbagai acara. Tak terkecuali dengan berbagai lembaga pendidikan menengah pertama yang ada di Bhumi Arema.

Salah satunya adalah MTsN 6 Kepanjen yang menggelar acara batik masal. Kegiatan ini  diikuti atusan pelajar dari kelas 7 serta melibatkan wali murid di kampung batik Abhikarsya.

Sebanyak 74 kain pun dibagikan kepada para pelajar dan wali murid. Jumlah yang disesuaikan dengan usia negara Indonesia pada tahun 2019 ini. Berbagai motif, dari bunga dan logo Abhikarsya, Garuda Pancasila, sosok pahlawan nasional dan lainnya, pun bersiap untuk dicanting para pelajar yang  dibantu para wali murid.

Keseruan mencanting batik yang dilakukan di halaman MTsN 6 Kepanjen berlangsung meriah. Celoteh pelajar dan wali murid disertai gelak tawa memenuhi acara batik masal yang diproyeksikan pihak sekolah untuk mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan kepada warisan leluhur dan budaya asli Indonesia.

"Acara batik yang diikuti oleh seluruh pelajar kelas 7 dan wali murid ini memang didasarkan untuk mengenalkan dan mendekatkan batik kepada para siswa. Sehingga muncul rasa cinta sejak dini kepada warisan nenek moyang dan budaya asli Indonesia," kata Sumiasih, wakil kepala (waka) kesiswaan MTsN 6 Kepanjen, Jumat (16/08/2019) kepada MalangTIMES.

Sumiasih melanjutkan, pengenalan batik sejak dini yang digelar pihaknya juga sebagai bagian dalam merayakan kemerdekaan ke-74 Indonesia dengan kegiatan yang bisa berdampak positif bagi para siswanya.

Para pelajar kelas 7 bersama wali murid serius saat mencanting kain batik (Nana)

Dari membatik itu, dimungkinkan akan lahir bibir-bibit enterpreneur dari siswa setelah mereka mengenal dan terlibat langsung dalam kegiatan membatik. "Dimungkinkan dari acara ini, akan lahir sumber daya manusia (SDM) unggul dalam bidang batik. Walau yang utama adalah para siswa terlibat langsung, merasakan dan memiliki pengalaman pertama dalam membatik sebagai budaya asli kita," ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Waka Sarpras MTsN 6 Kepanjen Nurul Hasanah  juga menuturkan bahwa pihaknya memang memiliki komitmen untuk melestarikan dan menumbuhkan rasa cinta para siswanya atas budaya leluhur turun-temurun dalam membatik.
Untuk lebih menguatkan komitmen itu, maka para wali murid pun dilibatkan dalam acara batik masal tersebut. 

"Harapannya bahwa tujuan membangun SDM yang unggul ini orang tua atau wali murid juga terlibat di dalamnya. Sehingga anak-anak akan semakin termotivasi. Jadi, bukan hanya sekolah, tapi pihak keluarga anak-anak terlibat dalam acara yang bertujuan juga sebagai ruang untuk mencintai budaya batik ini," ujar Nurul.

Kegiatan batik masal dalam merayakan kemerdekaan ke-74 Indonesia ini pun mendapat apresiasi positif dari para wali murid. Salah satu wali murid di sela-sela keriangan mencanting kain batik menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat baik.

"Positif sekali dan sangat baik. Saya sangat senang bahwa sekolah menggelar acara ini. Sehingga anak-anak yang merupakan generasi milenial ini juga tidak lupa atas budaanya sendiri," ujar Ivayanti Maysarah, wali murid dari siswa kelas 7A.

Ivayanti juga mengatakan, dengan perkembangan zaman saat ini, anak-anak lebih familiar dengan gadget yang dipenuhi berbagai permainan (game) dan platform di dalamnya. Berbicara budaya atau kultur asli Indonesia seperti batik, akhirnya semakin tenggelam di kehidupan anak-anak.

"Hal inilah yang membuat acara batik ini saya apresiasi benar. Sehingga anak-anak kenal dengan budaya batik. Saya berharap acara ini terus dilanjutkan dan lebih intens kepada siswa di sini," pungkasnya.