Arif Dwi Affandi (kanan) tersangka beserta barang bukti narkoba jenis ganja saat sesi rilis (Foto : Satrskoba Polres Malang for MalangTIMES)
Arif Dwi Affandi (kanan) tersangka beserta barang bukti narkoba jenis ganja saat sesi rilis (Foto : Satrskoba Polres Malang for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Arif Dwi Affandi warga Dusun Sekarputih, Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir hanya bisa pasrah saat digelandang petugas ke ruang penyidikan Satreskoba Polres Malang, Rabu (14/8/2019).

Seperti yang sudah diberitakan, remaja 19 tahun ini berurusan dengan polisi lantaran terlibat jaringan peredaran narkoba. Ketika diringkus di salah satu kawasan pasar yang ada di Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir. Tersangka Arif kedapatan sedang menunggu calon pembelinya.

Dari hasil pengembangan petugas, polisi mendapati 11 poket ganja siap edar dengan berat total lebih dari 17 gram, yang disimpan pelaku di rumahnya yang berlokasi di wilayah kecamatan wagir. ”Saya mulai mengenal narkoba sejak masih duduk dibangku SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), mungkin karena pergaulan yang awalnya coba-coba akhirnya keterusan mengkonsumsi narkoba,” kata tersangka Arif saat dimintai keterangan penyidik.

Arif menceritaan awal mula dirinya akrab dengan dunia narkoba. Dimana sebelum menjadi pengedar ganja, dirinya sempat menjadi penyuplai pil double L kepada para pemuda di kampungnya. Selain itu, pelaku juga mengedarkan barang laknat tersebut ke teman sekolahnya.

”Kalau jadi pengedar pil koplo (sebutan pil double L) sudah lama, sejak SMK dulu. Tapi kalau mengedarkan ganja baru dua bulan ini, sebelum akhirnya ditangkap polisi. Selain mengedarkan saya juga mengkonsumsi ganja,” tutur remaja lulusan SMK tersebut.

Pria belasan tahun ini mengaku jika pasokan ganja yang dia terima, dibeli dari seorang bandar sekaligus temannya yang bernama AB (inisial). Sang bandar itu diketahui merupakan warga Kota Malang. ”Satu poket ganja berukuran besar, saya beli seharga Rp 400 ribu. Kemudian saya ecer menjadi 11 poket ganja dan saya jual kembali seharga Rp 100 ribu per poket,” terang Arif.

Apabila ganja yang dijual sudah habis, lanjut Arif, dirinya akan menghubungi sang bandar melalui telephone selular. Jika barangnya tersedia, pelaku disuruh untuk mentransfer uangnya melalui rekening milik sang bandar. ”Ketika uangnya sudah saya transfer, biasanya dia (AB) akan menelepon dan memberi tahu di mana lokasi pengiriman poket ganja tersebut,” ungkapnya.

Akibat perbuatannya, tersangka Arif dijerat dengan pasal 111 ayat 1 Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika, dengan ancaman maksimal 12 tahun kurungan penjara.