Anggota kepolisian Polres Malang (kanan) beserta tim Trauma Healing saat mengunjungi rumah salah satu korban pencabulan (Foto : Humas Polres Malang for MalangTIMES)
Anggota kepolisian Polres Malang (kanan) beserta tim Trauma Healing saat mengunjungi rumah salah satu korban pencabulan (Foto : Humas Polres Malang for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Hingga bulan Agustus 2019, kasus pencabulan di Kabupaten Malang memang menjadi salah satu kasus yang paling marak di tangani Polres Malang. 

Fakta tersebut disampaikan langsung Kanit Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana.

”Anak-anak hingga usia remaja direntang usia 5 hingga di bawah 18 tahun yang ada di Kabupaten Malang memang marak menjadi korban kekerasan seksual. Jika di rata-rata, dalam satu bulan ada 9 kasus asusila yang terjadi wilayah hukum Polres Malang,” kata anggota polisi yang akrab disapa Yulistiana ini.

Berdasarkan catatan yang dihimpun UPPA Satreskrim Polres Malang, terdapat 100 berkas lebih dari kasus pencabulan yang ditangani penyidik pada tahun lalu. 

”Di tahun 2018 sedikitnya ada 106 kasus asusila yang dialami anak dibawah umur. Kasusnya bervariatif, mulai dari pelecehan seksual hingga persetubuhan yang dialami anak di bawah umur,” terang Yulistiana, Rabu (14/8/2019).

Jika flashback pada tahun 2017 lalu kasus serupa juga marak menimpa bocah dan remaja yang ada di Kabupaten Malang. 

Ketika itu, tercatat ada 82 kasus pencabulan yang ditangani Polres Malang. 

”Sekitar 70 persen pelaku asusila terhadap anak di bawah umur ini didominasi pria yang berusia di atas 30 tahun,” sambung Yulistiana.

Terkait maraknya kasus pencabulan tersebut, Polres Malang gencar melakukan Trauma Healing terhadap korban yang mengalami kasus pelechan. 

Seperti yang terjadi pada hari ini (Rabu 14/8/2019) sore. 

Puluhan rombongan Polwan (Polisi Wanita) mengunjungi kediaman Jelita (samaran) yang beralamat di Kecamatan Turen.

Sebagi informasi, bocah 11 tahun ini merupakan korban pencabulan yang dilakukan oleh ayah tirinya sendiri. 

Belakangan diketahui, tersangkanya berinisial ES.

Akibat perbuatannya tersangka dijerat Pasal 81 juncto pasal 76 D dan pasal 82 juncto pasal 76 E Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang persetubuhan dan pencabulan terhadap anak dibawah umur.

Trauma Healing ini dilakukan secara berkelanjutan terhadap korban pencabulan yang masih berusia di bawah umur. Harapannya dengan adanya agenda semacam ini, korban tidak mengalami rasa trauma yang berkelanjutan,” ungkap Yulistiana.

Selain Kanit UPPA Satreskrim Polres Malang, beberapa rombongan Polwan dari berbagai unit mulai dari Kabag Sumda Polres Malang, serta tim Trauma Healing juga turut dilibatkan dalam agenda tersebut.

”Saya ingin jadi Polisi,” kata Jelita saat menjawab pertanyaan yang diajukan Kabag Sumda Polres Malang, Kompol Yuliati, saat mengunjungi korban di rumahnya.

”Agar cita-citanya segera tercapai, mulai dari sekarang harus rajin belajar ya,” saut Kompol Yuliati saat menyemangati Jelita yang bercita-cita menjadi Polwan tersebut.

Setelah sempat bercengkrama hangat, diakhir agenda Trauma Healing ini Polwan Polres Malang juga memberikan berbagai perlengkapan sekolah guna mengurangi beban trauma yang sempat dialami Jelita. 

Bingkisan tali asih itu berbentuk seragam serta berbagai perlengkapan sekolah. 

Selain itu, satu unit sepeda angin juga diserahkan tim Trauma Healing kepada korban.

”Semoga apa yang kami berikan bisa bermanfaat, dan korban tidak mengalami trauma yang terus berkelanjutan,” ungkap perwira polisi dengan satu melati di bahu ini.

Sementara itu, SW (ibu korban) mengaku sangat senang saat mengetahui rombongan polwan bertamu kerumahnya. 

Bahkan dirinya juga sempat berterimakasih akan bingkisan tali asih yang diberikan oleh tim Trauma Healing terhadap putrinya.

”Terima kasih atas rasa simpati yang diberikan ibu polwan Polres Malang terhadap putri saya. Saat ini kondisi dia (Jelita) sudah berangsur membaik, anaknya sudah mulai membuka diri dan mau bersosialisasi,” pungkasnya.