Owner Sambal Mamacih tengah mengemas sambal kemasan. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Owner Sambal Mamacih tengah mengemas sambal kemasan. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tingginya harga cabai selama hampir dua bulan terakhir mulai berpengaruh pada usaha kuliner di Kota Malang. Para pengusaha kuliner pun melakukan berbagai trik untuk menekan biaya produksi. Bahkan terpaksa menurunkan margin keuntungan hingga 60 persen.

Cabai yang merupakan bumbu favorit sebagian besar konsumen kuliner memang belum bisa digantikan. Naiknya harga cabai membuat para pelaku kuliner dalam dilema. Di satu sisi tidak ingin memberatkan konsumen dengan kenaikan harga. Di sisi lain, mereka dihadapkan pada harga bahan baku yang melambung tinggi. 
 

Seperti yang diungkapkan Fiyani Rizki Amalia, owner Sambal Mamachi Malang. Ditemui di gerainya di Jalan Selorejo No 78, Lowokwaru, Fiyani mengaku mesti mengurangi tingkat kepedasan sambalnya akibat mahalnya harga cabai. "Ya terpaksa saya mengatasinya dengan sedikit mengurangi tingkat kepedasan sambal," tuturnya.

Dalam sehari, Fiyani membutuhkan sekitar 10-15 kilogram cabai segar. Selama beberapa waktu terakhir, dia memilih mengombinasikan beberapa jenis cabai untuk menekan biaya produksi. "Tiga bulan terakhir ini harga cabai naik drastis. Setelah Lebaran (Juni 2019) dulu cabai rawit masih Rp 10-20 ribu per kilo. Tapi saat ini sampai Rp 100-120 ribu per kilogram," keluhnya.
 

Untuk produknya, Fiyani membanderol harga ukuran medium 20-25 ribu per botol dan untuk ukuran large 37-47 ribu per botol. Dalam perhitungan bisnisnya, dia menyebut harga yang ideal untuk produksi sambal kemasan adalah kisaran Rp 20-40 ribu per kilogram. "Sebenarnya tidak berpengaruh ke omzet penjualan. Cuma, untung bersihnya turun berasa banget. Turun hingga 60 persen dari penghasilan biasa," paparnya.

Dalam sehari, Fiyani bisa memproduksi sekitar 35 botol sambal dengan delapan varian. Mulai sambal bajak, sambal teri, tongkol, paru, cumi, udang dan ayam suwir. Dalam sebulan, rata-rata dia bisa menjual hingga 800 botol sambal. "Untuk penjualannya, selain Malang Raya, juga hampir ke seluruh Indonesia. Juga untuk dikirim ke Hongkong 60 botol per bulan," ungkapnya.

Dia mengaku, selama dua tahun terakhir, kenaikan yang terjadi kali ini merupakan yang tertinggi. "Pernah naik, tapi hanya sampai Rp 70 ribu. Padahal kan kami harus menggunakan cabai fresh (segar). Nggak bisa cabai kering atau cabai yang disimpan di frezer karena akan berpengaruh pada kualitas rasanya," ucapnya. 

Karena mengurangi tingkat kepedasan sambal, ibu dua anak itu mengaku sempat mendapatkan protes dari pelanggan. "Ada protes tapi nggak banyak, karena kan mereka sudah tahu kalau harga cabai mahal. Tapi terbantu harga-harga bahan lainnya tidak naik. Yang naik hanya cabai," ujar Fiyani.

Pengusaha kuliner lain, Miranti, juga mengeluhkan harga cabai yang tak kunjung turun. Owner Pentol Pedas Malang ini mengaku kesusahan dengan mahalnya harga cabai. "Kita kesusahan, harga cabai di pasar bisa sampai Rp 100 ribu per kilogram, padahal setiap dua hari sekali harus beli cabai untuk sambal," ungkap perempuan yang akrab disapa Mira itu.

Dia berharap harga cabai bisa kembali normal. Pasalnya, mahalnya cabai membuat biaya produksi melonjak. Sementara Mira tidak menaikkan harga jual ataupun mengurangi tingkat kepedasan makanannya. "Sampai kapan harganya mahal, kami berharap ada kebijakan pemerintah menyikapi mahalnya cabai ini," pungkasnya.