MALANGTIMES - Plt Bupati Malang Sanusi menyatir peribahasa "anjing menggonggong, khafilah berlalu" di acara Bursa Inovasi Desa (BID) di Bululawang. Peribahasa yang secara lugas menyiratkan sebuah upaya untuk terus berjalan kepada siapa pun yang akan melakukan perubahan di wilayahnya masing-masing di berbagai sektor walau akan banyak olok-olok, caci-maki dan cemooh kepada mereka dalam menjalani perannya itu.

Tentunya, peribahasa yang dipakai Sanusi juga sebagai bentuk dorongan kepada seluruh masyarakat untuk tidak pantang surut.  Yakni membangun wilayahnya walaupun berbagai kendala dan tantangan akan terus menghadangnya.

Bagi para inovator pun, peribahasa itu cocok untuk diterapkan. "Bagi para inovator pun tentunya tidak lepas dari itu. Karenanya harus tetap sabar, ikhtiar, jalan lurus, jujur dan istikamah. Jangan hiraukan dan dendam atas cacian orang. Teruslah bergerak dan wujudkan perubahan lebih baik," ucap Sanusi, Selasa (13/08/2019).

Dukungan moril Sanusi tersebut agar para inovator tetap berinovasi dan berkreasi di tengah percepatan zaman yang membutuhkan juga berbagai perubahan baru. Sebab, lanjut Sanusi, inovasi merupakan kunci lahirnya berbagai terobosan guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa. "Maka sekali lagi jangan patah semangat meski diawal diolok-olok. Anjing menggongong khafilah berlalu," tegasnya.

Berbagai contoh keberhasilan dengan adanya para inovator di Kabupaten Malang menjadi contoh nyata dan hidup. Sehingga, Sanusi juga berharap bisa dijadikan penyemangat bagi seluruh masyarakat di Kabupaten Malang. 
Misalnya, rest area JLB Bululawang yang dulunya hanya lahan sawah dan semak belukar kini berubah menjadi rest area yang banyak dikenal orang serta memiliki nilai manfaat lebih kepada masyarakat. Hal ini tidak lepas dari peran para inovator yang terus bekerja dengan daya kreativitas untuk membangun wilayahnya.

Politikus PKB ini juga mencontohkan lokasi lainnya yang kini menjadi kebanggaan Kabupaten Malang sekaligus menjadi sumber penghasilan yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat desa. "Banyak lokasi yang karena mendapat sentuhan para inovator menjelma menjadi kawasan bernilai lebih bagi kesejahteraan warganya," ujar Sanusi.

Dia mencontohkan wilayah Kecamatan Pujon dengan Kafe Sawah yang kini asetnya mencapai Rp 12 miliar, Boonpring di Turen, dan Sumbermaron di Pagelaran. "Semua tidak lepas dari peran inovator. Karena itu, sekali lagi saya harapkan jangan patah semangat bila di awal mendapat olok-olok, cemooh dan lainnya. Terus bergerak dan berinovasi," tandasnya.