Para mitra driver saat berada di kantor Gojek Malang di Jalan Laks Martadinata, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Para mitra driver saat berada di kantor Gojek Malang di Jalan Laks Martadinata, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Penerapan tarif baru tarif baru transportasi berbasis aplikasi alias ojek online (ojol) banyak dikeluhkan pelanggan. Terlebih dengan adanya kebijakan tarif minimal yang dikenakan untuk perjalanan jarak dekat. Meski demikian, keluhan itu diklaim belum berpengaruh pada jumlah transaksi.

Salah satu keluhan disampaikan Khairani, siswi salah satu SMP Negeri di Kota Malang. Setiap hari, gadis belia itu naik ojol dari rumah ke sekolah yang berjarak sekitar 2 kilometer. "Biasanya hanya bayar Rp 4 ribu, tapi sejak tarif naik jadi Rp 9 ribu. Naiknya dua kali lipat lebih sehingga uang sakunya ngepas," keluhnya. 

Padahal, Khairani mengaku mengandalkan ojol untuk transportasi ke sekolah karena orang tuanya tidak bisa mengantar-jemput. Sementara untuk mengakses angkutan umum, dia mesti berjalan kaki lebih dari setengah kilometer. "Kan rumah saya di dalam gang kecil, harus jalan dulu baru dapat angkot. Dari turun angkot juga jalan lagi ke sekolah karena rumah saya tidak dilewati angkot yang lewat di depan sekolah," sebutnya. 

MalangTIMES melakukan simulasi menggunakan layanan Goride dari aplikasi Gojek. Dari Jalan Binor ke DPRD Kota Malang, yang sebelumnya bertarif Rp 6 ribu tanpa diskon menjadi Rp 9 ribu dengan diskon. Seperti diberitakan sebelumnya, tarif baru ojol diberlakukan mulai 9 Agustus 2019 lalu. 

Kenaikan tarif tersebut berdasarkan Kemenhub No 348  tahun 2019 tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor yang digunakan untuk kepentingan masyarakat yang dilakukan dengan aplikasi. Kenaikan tarif baru ojek online ini baru diberlakukan di 88 Kota/Kabupaten yang meliputi zonasi I,II dan III.

Wilayah Malang Raya masuk dalam Zonasi I yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Bali. Zonasi II meliputi Jabodetabek dan Zonasi III Sulawesi, Maluku dan NTB. Kemenhub mengatur, tarif bawah untuk Zonasi I yakni Rp 1.850 hingga Rp 2.300 per kilometer dengan biaya minimal Rp 7-10 ribu per transaksi. 

Menanggapi banyaknya keluhan pelanggan, Regional Manager Public Policy and Government Relation Jatimbalinus Gojek, Boy Arno Muhamad mengungkapkan bahwa pihaknya tetap mendukung keputusan yang dilakukan oleh pemerintah mengenai kenaikan harga. "Saya rasa kenaikan tarif dari pemerintah ujung-ujungnya baik bagi semua pihak. Termasuk mitra driver dan costumer," terangnya. 

Boy juga tidak memungkiri bahwa kenaikan tarif ojol sendiri akan memberi dampak terutama kepada para customer. Meski demikian, Boy mengklaim jika sejauh ini belum ada penurunan jumlah penumpang secara signifikan. "Dari jumlah transaksi sampai saat ini masih normal, belum ada pengaruh," tegasnya.

Dia menegaskan, kenaikan tarif ojol tersebut merupakan win-win solution dari pemerintah. Terutama untuk menjamin kesejahteraan para mitra driver, sekaligus agar dapat memberikan pelayanan lebih baik kepada costumer. "Keluhan-keluhan di awal itu wajar. Tapi nanti costumer akan terbiasa akan hal ini," terangnya.

Boy menambahkan, jika Gojek bukanlah sebuah perusahaan transportasi, melainkan perusahaan aplikasi. Untuk itu, pihaknya belum banyak mendapatkan pengaruh terkait dengan kenaikan tarif ojek online. "Harus dipahami, layanan kami tidak hanya Go Ride, tapi kami punya 22 layanan lain. Kami akan terus berupaya memastikan kenaikan tarif akan tetap memuaskan pengguna maupun mitra Gojek," pungkasnya.