Mahasiswa baru UIN Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Mahasiswa baru UIN Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dalam masa-masa kegiatan orientasi mahasiswa baru ini, biasanya terdapat kasus-kasus yang melibatkan kekerasan fisik maupun mental.

Akan tetapi, Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) dipastikan bebas kekerasan.

Hal ini dikarenakan sistem penugasan untuk mahasiswa baru menggunakan sistem online.

Jadi tidak ada satupun tugas yang dilakukan secara manual, semuanya sudah berbasis online.

Dari situ, sudah kelihatan tidak ada satu rupiahpun biaya yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa baru.

"Jadi tidak memberatkan sehingga dari situ unsur kekerasan bisa sangat diminimalisir bahkan dihilangkan," tandas Wakil Ketua PBAK UIN Malang 2019, Mohammad Miftahusyai'an kepada MalangTIMES, Selasa (13/8/2019).

Kedisiplinan di UIN Malang sendiri ditanamkan tidak melalui kekerasan. Namun, tentu ada sanksi untuk setiap pelanggaran.

Contoh pelanggaran-pelanggaran tersebut seperti tidak memakai atribut lengkap (jas almamater dan topi veteran), berkata kotor atau kasar, terlambat, menentang panitia, dan lain-lain.

Sanksinya tidak memberatkan namun bermacam-macam sesuai dengan poin pelanggaran mahasiswa. 

Ada yang hanya membuat surat pernyataan bersalah hingga sanksi-sanksi lain yang bersifat mendidik.

Sanksi tersebut contohnya diminta untuk menyanyikan lagu-lagu perjuangan, lagu-lagu kebangsaan, atau lagu-lagu daerah. 

Dan hal itu juga masuk penugasan. Mereka menggunakan berbagai alat musik sebagai instrumen dalam menyanyikan lagu-lagu itu kemudian diunggah ke kanal YouTube.

"Intinya hukuman pun sangat mendidik, tidak ada sentuhan fisik sama sekali," tandasnya.

Sesuai dengan SK Dirjen Pendis Kementerian Agama, panitia PBAK UIN Malang juga panitia bersama yang terdiri atas unsur dosen, karyawan, dan mahasiswa.

"Itu dalam satu surat keputusan yang dibuat oleh Rektor. Jadi bersama-sama, sehingga bisa saling memantau, saling mengingatkan, saling evaluasi. Sehingga tidak ada kekerasan dalam bentuk apapun. Insya Allah aman," pungkas Miftahusyai'an.