Cacing hati masih saja ditemukan pada hewan qurban di tahun 2019 ini (dok MalangTIMES)

Cacing hati masih saja ditemukan pada hewan qurban di tahun 2019 ini (dok MalangTIMES)



MALANGTIMES - Perayaan Idul Adha dengan ibadah qurban telah berlalu. Tapi, persoalan terkait penemuan penyakit hewan qurban, masih ditemukan di Kabupaten Malang. Walaupun dengan jumlah yang sangat sedikit, tapi penyakit hewan qurban tetap menjadi perhatian serius untuk kesehatan manusia yang mengkonsumsinya.

Tidak ada temuan penyakit berbahaya seperti anthrax, memang, di wilayah Kabupaten Malang. Tapi, penyakit  fasciola hepatita atau cacing hati pada sapi qurban, masih saja ditemukan.

"Iya masih ditemukan adanya cacing hati pada sapi qurban kemarin. Ada dua ekor sapi yang ditemukan saat kita melakukan pengecekan," kata drh Aris Wahyudi, petugas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang.

Penemuan cacing hati sapi pada Hari Qurban, bukan yang pertama kalinya. Beberapa tahun lalu, juga ditemukan hal serupa. Walau daging sapi masih bisa dikonsumsi, dan bagian yang terkena cacing dibuang dengan cara ditanam dalam tanah dengan diberi solar terlebih dahulu.

Tapi, setiap tahun cacing hati yang ditemukan perlu adanya antisipasi lebih untuk memastikan kesehatan hewan qurban. Pasalnya, efek penyakit itu bisa menimbulkan penyakit kepada manusia yang mengkonsumsinya. Gejala ringannya akan terkena cacingan dan pada kasus berat dapat menyebabkan sirosis hati.

Penyakit cacing hati, dari berbagai sumber, memang terus terjadi pada hewan qurban. Tak terkecuali di tahun 2019 ini di berbagai daerah Indonesia juga ditemukan kasus serupa. Sejarahnya juga bisa terbilang panjang di Indonesia.

Tercatat penyakit hewan yang bisa membuat manusia terkena sirosis hati ini sudah ada sejak pemerintah Belanda mengimpor sapi dari Inggris dan India untuk memperbaiki jenis sapi lokal. Sapi-sapi impor inilah yang akhirnya masuk ke Indonesia dan Francesco Redi, dokter, ahli bedah dan ilmuwan dari Tuscany di tahun 1668 melahirkan teori biogenesis yang mengungkap perihal kehidupan berasal dari kehidupan sebelumnya. 

Salah satu teori yang akhirnya dikembangkan dalam persoalan medik. Salah satunya terkait penyakit cacing hati pada hewan yang ada di Indonesia dan dilaporkan pertama kalinya oleh Van Velzen lewat penemuan bakteri itu di hewan kerbau. Sejak itu cacing hati menerpa berbagai hewan lainnya, seperti sapi sampai hewan liar lainnya.

Cacing yang bersifat hemaprodit, berkembang biak dengan cara pembuahan sendiri atau silang, setiap kali bertelur bisa  menghasilkan sekitar 500 ribu butir. Satu hati seekor domba bisa mengandung  200 ekor cacing atau lebih. Dengan jumlah telurnya yang banyak itulah, hewan kerap  mengeluarkannya saat membuang kotoran. Telur cacing akan menjadi larva di berbagai tempat, khususnya tempat basah.

Tempat-tempat inilah yang akhirnya menjadi penyebab hewan ternak terjangkiti cacing hati. Misalnya saat larva berkembang di rerumputan yang dimakan hewan. Pada saat ternak makan rumput yang mengandung metaserkaria, maka sista akan menetas di usus ternak dan akan menerobos ke dalam hati ternak dan berkembang menjadi cacing muda.

Aris menyampaikan, cacing yang sudah menetap di hati hewan akan berkembang biak. Efeknya adalah menghancurkan jaringan hati dan menyebabkan perdarahan.

"Dalam fasciolosis akut (tiba-tiba), kerusakan yang disebabkan sangat parah. Hati membesar dan gembur dengan deposito fibrinous (pengapuran ) pada kapsul," ujarnya.

Berbagai temuan tiap tahun di berbagai wilayah terkait cacing hati di hewan qurban, tentunya patut menjadi perhatian serius pemerintah dalam menanggulangi dan meminimalisirnya. Sehingga tidak akan menimbulkan efek negatif bagi kesehatan manusia itu sendiri. 
 

 

End of content

No more pages to load