Dr. Ir. Aju Tjatur Nugroho Krisnaningsih, MP.,IPM saat berhasil meraih gelar Doktornya (Dr. Ir. Aju Tjatur Nugroho Krisnaningsih, MP.,IPM for MalangTIMES)

Dr. Ir. Aju Tjatur Nugroho Krisnaningsih, MP.,IPM saat berhasil meraih gelar Doktornya (Dr. Ir. Aju Tjatur Nugroho Krisnaningsih, MP.,IPM for MalangTIMES)



MALANGTIMES - Dr. Ir. Aju Tjatur Nugroho Krisnaningsih, MP.,IPM, Ketua Program Studi Peternakan Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) baru saja memperoleh kelulusan gelar doktornya. Gelar tersebut diraih berkat penelitiannya menggenai pembuatan yogurt dengan stabilizer pati talas.

Bahan nabati pati talas tersebut, dikatakan Aju, sangat bagus digunakan sebagai stabilizer pada pembuatan yogurt menggantikan bahan gelatin, yang memang digunakan pada pembuatan yogurt pada umumnya.

"Sebagai alternatif pengganti gelatin impor. Bahannya mudah didapat dan mudah dibuat. Ini potensi lokal yang kita kembangkan," jelasnya.

Dijelaskan, pati talas memiliki keunggulan selain harganya murah dan dapat dijumpai di berbagai daerah, pati talas mengandung senyawa amilosa dan amilopektin yang mencegah sineresis atau pemisahan cairan dengan gel.

Pati talas memiliki ukuran granula (butiran kecil dan halus pada sel) yang lebih kecil sehingga mampu menyerap air dengan sempurna dan semakin homogen.

"Sineresisnya berkurang. Selain itu, dengan menggunakan pati talas rasanya juga tidak terlalu asam. Kan biasanya ada orang yang suka nggak terlalu asam," terang Aju.

Dalam prosesnya, masyarakat bisa dengan mudah menerapkannya. Selain itu, bahan-bahannya pun juga dengan mudah bisa didapatkan. Hanya perlu susu segar, susu bubuk dan pati talas sudah bisa membuat sebuah yogurt yang murni dan sehat.

"Prosesnya ini dengan suhu ruangan 18 jam sudah jadi. PH-nya sudah PH yogurt, PH ideal produk yogurt 4 sampai 4,5," tuturnya.

Lebih lanjut dijelaskan, pati talas sebagai prebiotik tersebut selain sebagai stabilizer juga dijadikan makanan oleh bakteri asamlaktat sebagai probiotik. 

Ke depan ia berharap bisa lebih mengembangkan  produk tersebut secara massal dan bisa saja bekerjasama dengan industri.

"Bisa dikembangkan lebih lanjut namun saat ini masih fokus pada penelitian yang murni," pungkasnya.

 

End of content

No more pages to load