Para pengunjung Taman Singha Merjosari, Kota Malang tengah membaca buku dalam kegiatan Lapak Baca Solidaritas Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Para pengunjung Taman Singha Merjosari, Kota Malang tengah membaca buku dalam kegiatan Lapak Baca Solidaritas Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Sejumlah komunitas literasi di Malang Raya, hari ini (10/8/2019) menggelar aksi simpatik di Taman Singha Merjosari, Kota Malang. Dalam kegiatan bertajuk Lapak Baca Solidaritas Malang itu, mereka menggelar berbagai buku bacaan di area taman untuk dibaca secara gratis oleh pengunjung. 

Kegiatan tersebut merupakan bentuk solidaritas atas tindakan razia buku yang terjadi beberapa waktu terakhir. "Ini merupakan bentuk keprihatinan atas pencekalan kegiatan teman-teman Vespa Literasi Probolinggo dan juga razia buku di Makassar," ujar Ali Bisri, pengelola Komunitas Literasi Teras IKIP yang juga turut melapak. 

Seperti diberitakan, ada dua kejadian razia buku yang baru-baru ini terjadi dan meresahkan para pegiat literasi. Pada 27 Juli lalu, dua pegiat Vespa Literasi diamankan oleh anggota Polsek Kraksaan, Kabupaten Probolinggo karena menggelar lapak baca dengan membawa buku Dipa Nusantara (DN) Aidit, salah satu tokoh komunis Indonesia. 

Tak berselang lama, pada 3 Agustus lalu, anggota organisasi masyarakat (ormas) Brigade Muslim Indonesia (BMI) Sulawesi Selatan (Sulsel) melakukan razia buku "kiri" di beberapa toko buku setempat. 

"Dari dua kejadian itu, semakin banyak orang menggolongkan buku dengan istilah buku kiri, buku kanan. Kami berupaya membuat gerakan moral untuk tidak menjustifikasi buku," ujar Ali. 

Ali menilai, razia dan pencekalan buku tersebut mengindikasikan bahwa masih ada jarak antara masyarakat dengan giat literasi jalanan. Termasuk kegagapan aparat dan elemen masyarakat menanggapi buku-buku tertentu. 

"Bahkan di Kota Malang ini, kami sempat dicurigai kalau menggelar lapak buku di taman atau di jalan seolah melakukan hal yang aneh. Banyak ditanya-tanyai petugas taman, meski tidak sampai ada pelarangan," tuturnya. 

Dengan aksi damai tersebut, lanjut Ali, pihaknya ini mengajak masyarakat lebih terbuka. Bahwa lapak buku jalanan adalah kegiatan positif sebagai gerakan membangun minat baca. 

"Buku yang dibawa itu kan nggak ada kanan kiri, semua tergantung pembacanya. Nglapak buku apapun yang dibaca itu sah-sah saja. Membaca juga bagian dari hak warga negara," tegasnya.

Pelapak lain, Hari Pendek dari Komunitas Literasi Sabtu Membaca mengungkapkan bahwa aksi melapak serentak tersebut juga dilangsungkan di beberapa daerah di Indonesia. Misalnya di Pasuruan, Cianjur, Pacitan, Tebing Tinggi, Semarang, Kendari, Surabaya, Salatiga, Langsa, Banda Aceh, Gowa, Banyuwangi, Palopo, Tuban, Blitar, dan lain-lain. 

"Aksi yang digelar serentak di berbagai daerah ini merupakan harapan agar kegiatan-kegiatan literasi jalanan tidak lagi dibatasi atau bahkan ditakuti," ungkap Hari. Menurutnya, selama ini berbagai komunitas literasi melakukan berbagai upaya secara swadaya untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat atas buku. Sehingga razia yang dilakukan justru kontraproduktif dan hanya akan menimbulkan keresahan masyarakat.

Ratusan buku dihamparkan di atas rerumputan Taman Singha Merjosari. Para pengunjung bisa langsung memilih dan membaca di tempat. Buku-buku tersebut misalnya karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Madilog dan Aksi Massa karya Tan Malaka, Maxim Gorky, Arus Pemikiran Lenin dan Stalin, Che Guevara Revolusi Kuba, Zaman Peralihan karya Soe Hok Gie, Max Havelaar karya Multatuli, Ateisme Sigmun Freud, dan lain-lain.

Setidaknya ada 16 komunitas yang ikut menggelar buku mereka. Di antaranya Komunitas Literasi Gendong Indonesia, Sabtu Membaca, Teras IKIP, Perpustakaan Jalanan Malang, Tumbuh Seperti Kates, Kontribusi, Sajak Lestari, Gubuk Tulis, Wahana Baca Pasuruan, Tore Maos, Nyala Lampu, Kolektif Sahabat Nabi, PerjalGeriliya Lestari, Perpus Jalanan Anomali, Aliansi Pelajar Malang, dan Perpus Jalanan Akar Dewa Rumaka.

 

End of content

No more pages to load