Ilustrasi (Medcom.id)
Ilustrasi (Medcom.id)

MALANGTIMES - Sebaran titik panas disebut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) semakin meluas sejak Agustus ini. Masyarakat pun diminta meningkatkan kewaspadaan diri terhadap adanya  kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). 

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk waspada terhadap bencana tanah longsor yang sangat mungkin terjadi karena tanah yang pecah atau retak, terutama di kawasan tebing dan miring.

Analisis Bencana BPBD Kota Malang, Mahfuzi menyampaikan, selain kebakaran lahan dan hutan, bencana longsor sangat mungkin terjadi. Hal itu dikarenakan kondisi tanah yang merekah dan pecah akibat kekurangan air. Sehingga, saat hujan turun meski dengan intensitas rendah sangat memungkinkan terjadinya longsor akibat jarak antar pori tanah sebelumnya telah merenggang.

"Tanah yang pecah atau retak sangat mungkin terjadi longsor jika dilakukan aktivitas dengan beban khusus. Terlebih kondisi itu terjadi pada tanah yang ada di lereng gunung," jelasnya.

Kondisi itu menurutnya tidak harus membuat masyarakat takut. Melainkan harus lebih meningkatkan kewaspadaan diri. Karena berdasarkan rilis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada Agustus 2019, menyebut Kecamatan Lowokwaru dan Sukun memiliki potensi gerakan tanah cenderung lebih rendah.

"Maka upaya yang bisa dilakukan adalah memininalisir resiko dengan upaya mitigasi. Salah satunya mewaspadai kawasan tempat tinggal kita, terutama saat awal musim hujan datang," jelasnya.

Sebelumnya, Deputi Meteorologi BMKG, Prabowo melalui keterangan tertulisnya menyampaikan, berdasarkan hasil pemantauan selama dua minggu (25 Juli hingga 5 Agustus 2019) sedikitnya BMKG mengidentifikasi terdapat 18.895 titik panas di seluruh wilayah Asia Tenggara dan Papua Nugini.

Informasi titik panas tersebut menurutnya dianalisis oleh BMKG berdasarkan citra Satelit Terra Aqua (LAPAN) dan Satelit Himawari (JMA Jepang). Peningkatan jumlah titik panas diakibatkan kondisi atmosfer dan cuaca yang relatif kering sehingga mengakibatkan tanaman menjadi mudah terbakar. 

Kondisi tersebut perlu diperhatikan, agar tidak diperparah dengan maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertanian dengan cara membakar.

"BMKG terus berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), BNPB, Pemerintah Daerah (BPBD), Instansi terkait, dan masyarakat luas untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan dan hutan, bahaya polusi udara dan asap, potensi kekeringan lahan dan kekurangan air bersih," katanya.

Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan BMKG, menunjukkan adanya trend titik panas meningkat di berbagai wilayah ASEAN. Terpantau mulai 25 Juli 2019 sebanyak 1395 titik meningkat menjadi 2441 pada tanggal 28 juli 2019. Kemudian titik panas mulai menurun pada tanggal 29 Juli 2019 menjadi sebanyak 1782 titik, dan menjadi 703 titik pada tanggal 1 Agustus 2019. 

Jumlah titik panas meningkat kembali menjadi 3191 pada tanggal 4 Agustus 2019, titik panas tersebut terkonsentrasi di wilayah Riau, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat, bahkan juga terdeteksi di Serawak (Malaysia), Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, dan Filipina.

Pada musim kemarau, pola angin dominan berasal dari arah Tenggara, hal ini mendorong arah penyebaran (trayektori) asap melintasi perbatasan wilayah Indonesia (transboundary haze). 

Kondisi tersebut telah diantisipasi dalam bentuk informasi peringatan dini berupa monitoring sebaran asap dan prediksi zona kemudahan terbakar, dengan menggunakan Fire Danger Rating System (FDRS) sampai 7 hari ke depan untuk wilayah ASEAN.

Dalam sistem tersebut terdapat peta prakiraan tingkat kemudahan terjadinya kebakaran berdasarkan unsur cuaca untuk wilayah Asia Tenggara. Dalam seminggu kedepan (6 - 12 Agustus 2019) wilayah Indonesia, Brunei Darussalam, Kamboja, Filipina, Thailand, Malaysia, dan sebagian kecil Myanmar, Vietnam, Laos masuk kategori diprediksi sangat mudah terjadi kebakaran.

Prabowo menerangkan, saat ini sebagian besar wilayah Indonesia dan beberapa wilayah di ASEAN sedang mengalami musim kemarau (monsun Australia). Dimana pola angin secara umum berasal dari arah Tenggara yang bersifat kering. 

Selain itu, kondisi musim saat ini juga dipengaruhi oleh kondisi anomali suhu permukaan laut di perairan Indonesia yang negatif khususnya di selatan ekuator, El Nino dengan intensitas lemah yg berlangsung dari akhir 2018 saat ini menuju kondisi netral, serta Indian Ocean Dipole Mode yang saat ini bernilai positif.

"Hal ini mengakibatkan musim kemarau tahun ini lebih kering dari tahun 2018, dan kondisi lahan khususnya gambut secara potensi menjadi mudah terbakar," imbuhnya.