Bus Macito (Foto : Istimewa)

Bus Macito (Foto : Istimewa)



MALANGTIMES - Larangan pengoperasian bus Malang City Tour (Macito) nampaknya sudah lama diberikan Kementerian Perhubungan. Alasannya, bus yang dikhususkan bagi wisatawan secara gratis itu tidak memenuhi standart modifikasi atau tidak sesuai dengan Sertifikasi Registrasi Uji Tipe (SRUT).

"Ini kendaraan hibah, tapi secara desain memang Pemerintah Kota Malang. Tapi saya tidak tahu persis dulu seperti apa kebijakannya, karena saya masuk di Dinas Perhubungan (Dishub) baru 2015," kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Handi Priyatno pada wartawan.

Dia menjelaskan, kendaraan yang akan dimodifikasi harus memenuhi aturan SRUT. Diantaranya meliputi panjang, lebar, hingga tinggi sebuah kendaraan. Apabila tidak bisa memenuhi persyaratan, maka secara otomatis berkas dan surat kendaraan tidak dapat dikeluarkan.

"Jadi harus ada ketentuan sesuatu syarat, baru bisa dikatakan boleh beroperasi dan dilengkapi surat," jelas Handi.

Mantan Kasatpol PP Kota Malang ini juga menyampaikan jika desain Macito yang sudah beroperasi sejak 2014 itu tak sesuai dengan SRUT yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan. Dimana semestinya bus tersebut beroperasi sebagai bus single deck. Tapi dalam kenyataannya dimodifikasi menjadi dua deck.

Modifikasi dua deck yang tak sesuai dengan SRUT itu menurutnya bisa saja menjadi resiko keselamatan bagi penumpangnya. Karena tidak sesuai dengan standart keamanan dan keselamatan penumpang sebagaimana yang ditetapkan.

"Bus itu rancangan awalnya single deck, kemudian dipanjangkan menjadi dua sumbu menjadi double deck. Padahal Macito ini merupakan bus standard seperti bus sekolah ataupun bus Bagong. Berbeda lagi dengan Bus Trans Jakarta yang memang sasisnya memang double deck," terangnya.

Dia juga menegaskan jika sering memberi peringatan kepada supir bus untuk berhati-hati. Karena selama ini, Macito selalu dipenuhi oleh penumpang pada bagian atas yang memang didesain terbuka. Sehingga tak jarang membuat wisatawan tertarik untuk melihat keindahan Kota Malang dari atas.

"Kecepatan harus tidak boleh lebih dari 50 kilometer per jam, terlebih saat belok di tikungan, karena rawan guling," jelas Handi.

Lebih jauh Handi menyampaikan, pihaknya menyarankan agar Bus Macito didesain ulang. Karena kasus serupa juga pernah terjadi di Kota Bandung. Namun setelah dilakukan desain ulang, bus wisata di Kota Bandung kemudian diperbolehkan kembali beroperasi setelah memenuhi ketentuan SRUT.

End of content

No more pages to load