Menteri Sekretaris Negara RI Prof Dr Pratikno MSocSc saat diwawancara awak media. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Menteri Sekretaris Negara RI Prof Dr Pratikno MSocSc saat diwawancara awak media. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Lantaran daya saing kampus-kampus di Indonesia terbilang rendah, jelang akhir masa jabatannya, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohammad Nasir bersikeras merealisasikan gagasan penggunaan rektor asing di Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan daya saing melalui perbaikan ranking dan mutu perguruan tinggi (PT), khususnya perguruan tinggi negeri (PTN).

Selama ini, masing-masing kampus di Indonesia merasa sebagai yang terbaik. Namun hanya di kandang sendiri.

Karena punya jaringan yang luas, rektor asing diasumsikan mampu membuat PTN meraih akreditasi internasional. Setelah itu, diharapkan memasuki orbit world class university (WCU) dalam waktu singkat. Tentu kemudian mampu mencetak lulusan berdaya saing tinggi secara internasional.

Menteri Sekretaris Negara RI Prof Dr Pratikno MSocSc menyatakan bahwa hal itu harus direspons secara komprehensif.  Intinya, saat ini Indonesia sudah memasuki era kompetitif.

"Intinya kan kompetisi. Bagaimana kita memberikan suasana competitiveness di antara perguruan tinggi dalam dan luar negeri, kemudian competitiveness di antara kita sendiri, antar-perguruan tinggi. Juga competitiveness di antara siapa yang harus memimpin perguruan tinggi," ucapnya saat ditemui di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) usai acara Konvensi Nasional Ilmu-Ilmu Sosial Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS), Kamis (8/8/2019).

Pratikno menyatakan, saat ini Indonesia perlu pemimpin yang inovatif, out of the box, dan melakukan berbagai terobosan. "Jadi, kita memang perlu pemimpin yang sangat inovatif, out of the box, melakukan banyak terobosan karena kita sudah buntu sudah, disalip oleh banyak negara lain," tandasnya.

Jadi,  terobosan harus dilakukan. Bukan hanya pada leadership, namun juga pada tata kelola. "Tadi kami juga mendiskusikan bagaimana kita memperbaiki tata kelola pendidikan secara nasional dan tata kelola pendidikan tinggi," pungkasnya.

End of content

No more pages to load