Kepala Seksi Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang, drh Hildasari. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Kepala Seksi Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang, drh Hildasari. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijah 1440 Hijriah jatuh pada hari Minggu (11/8/2019). Penetapan ini merujuk pada hasil sidang isbat penetapan awal bulan Zulhijah 1440 Hijriah/2019 Masehi di Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Hari Raya Idul Adha yang juga dikenal sebagai Hari Pengorbanan, adalah hari libur umat Islam untuk berkumpul bersama keluarga dan hari di mana umat muslim berkurban hewan sapi atau kambing. 

Untuk itu, hewan yang akan dijadikan kurban harus halal secara Islam dan sehat. Produk daging kurban harus berkualitas, yakni daging yang aman, sehat, utuh, dan halal.

Namun dengan banyaknya penjual hewan kurban yang ada, tentu membuat orang awam bingung memilih hewan kurban yang benar-benar sehat. Padahal, hewan kurban terbaik yang Anda berikan menjadi amalan terbaik. Sebagai pembeli, Anda perlu mencari tahu kriteria hewan yang layak dan sehat.

Pada dasarnya, hewan yang layak dikonsumsi dagingnya dapat dilihat dari sifat fisik hewan kurban itu sendiri.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang, drh Hildasari menyampaikan, hewan yang sehat bisa dilihat dari bulunya. "Dilihat dari bulunya, bulunya dalam keadaan mengkilap, tidak kusam," ucapnya.

Kedua, tidak ada benjolan-benjolan di sekitar kaki. Jadi kondisinya mulus. "Kemudian mata bersinar," imbuhnya.

Setelah itu, lubang-lubang yang ada di tubuh, seperti anus, telinga, hidung, hingga mulut juga bersih. Jika terdapat darah atau bekas berwarna merah sebaiknya tidak dibeli karena tidak sehat. "Benjolan bisa karena penyakit zoonosis yang ada di kaki kalau jantan. Kalau ada darah-darah segar keluar ifu penyakit anthrax biasanya. Itu penyakit hewan menular yang sangat berbahaya," jelasnya.

Hewan yang sakit juga terlihat menyendiri dan tidak lincah. Selain itu, hewan yang sakit tidak seperti teman-temannya yang lahap makan.

Sementara untuk hewan yang digelonggong, cirinya yakni ia buang air kecil berlebihan. "Ciri yang terlihat itu dia pipis terus. Jadi pipisnya berlebihan. Karena dia penuh air jadi kencingnya berlebihan," pungkasnya.