Selain Estetik, Komponen Interior Karya Mahasiswa ini Juga Penjernih Udara dalam Rumah yang Murah

Aug 05, 2019 19:38
Coal-APA sebagai pembatas ruangan. (Foto istimewa)
Coal-APA sebagai pembatas ruangan. (Foto istimewa)

MALANGTIMES - Rumah diharapkan dapat menjadi tempat beristirahat dan beraktivitas yang bebas dari segala jenis polusi yang berbahaya bagi kesehatan. Akan tetapi, masyarakat kurang menyadari bahwa di dalam rumah sebenarnya juga terdapat banyak penghasil polutan yang dapat menurunkan kualitas udara yang berada di sekitarnya.

Studi Environmental Protection Agency (EPA) bahkan menyatakan bahwa polusi udara di dalam ruangan dapat 2-5 kali lebih besar dibandingkan polusi di luar ruangan.

Baca Juga : Terkuak, Data Petani Terkena Limbah Greenfields Sejak Tahun Lalu Telah Dilaporkan, Tapi...

Aktivitas yang dilakukan di dalam rumah serta objek yang dapat ditemukan sehari-hari seperti memasak dan pengecatan dinding nyatanya juga turut menghasilkan polusi udara. Oleh karena itu mulai banyak alat penjernih udara yang diciptakan untuk mengurangi polutan dalam ruang.

Namun sayangnya, produk-produk penjernih udara yang beredar di pasaran memiliki harga yang cukup tinggi, sehingga tidak begitu ramah di kantong masyarakat Indonesia yang kebanyakan merupakan masyarakat berekonomi menengah ke bawah.

Menyadari permasalahan ini, sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), yakni Asti Ainun Nabilah (Fak. Teknik 2017), Intan Rosita Dewi (Fak. Teknik 2017) dan Sriwati Ajrina Sani (Fak. Teknik 2016) di bawah bimbingan Wasiska Iyati ST MT menciptakan desain penjernih udara ekonomis berbahan karbon aktif tempurung kelapa yang diberi nama Coal-APA (Coconut Coal Air Purifier Agent).

Coal-APA didesain sebagai komponen interior dalam bentuk modular sehingga dapat disusun menjadi partisi dinding sesuai dengan kreativitas dan kebutuhan pengguna sehingga dapat turut meningkatkan nilai estetik ruangan.

"Dikarenakan Coal-APA tidak membutuhkan energi listrik untuk beroperasi, pengaplikasiannya dapat dilakukan dimanapun. Selain itu produksinya memakan harga 50 persen lebih rendah dari produk penjernih udara kebanyakan sehingga akan lebih ramah di kantong," jelas Asti.

Karbon aktif berbahan tempurung kelapa dipilih mereka karena Indonesia yang merupakan negara tropis merupakan lokasi yang ideal untuk tumbuhnya tanaman kelapa (Cocos Nucifera). "Sehingga bahan bakunya lebih mudah didapat, dapat diperbaharui, dan harganya dapat jauh lebih murah dibandingkan karbon aktif berbahan kayu, bambu maupun batu bara," imbuhnya.

Baca Juga : Hama Tikus Bikin Buntung, Dinas Pertanian : Alat Bantuan Masih Terkendala Lelang

Selain itu, karbon aktif yang terbuat dari tempurung kelapa memiliki partikel yang lebih rapat daripada karbon aktif lainnya sehingga memiliki daya adsorbsi tinggi terhadap partikel polutan seperti CO, CO2, SO, O3, dan NO2. Kemampuan inilah yang dimanfaatkan dalam produk Coal-APA untuk menurunkan kadar polutan di dalam ruangan.

“Sampai saat ini kami masih mengembangkan Coal-APA. Semoga nantinya inovasi ini bisa menjadi salah satu solusi bagi masyarakat. Tidak hanya membantu mengurangi polusi di dalam rumah dan mempercantik ruangan, namun juga menciptakan potensi baru untuk pengolahan tempurung kelapa di masyarakat,” harap Astik.

Topik
MalangBerita MalangKomponen Interior Karya MahasiswaEnvironmental Protection Agencymahasiswa universitas brawijaya

Berita Lainnya

Berita

Terbaru