Ilustrasi ospek. (Foto: istimewa)
Ilustrasi ospek. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Mahasiswa baru perlu memiliki kesiapan psikologis maupun sosial untuk memasuki kehidupan perguruan tinggi. Hal ini diperlukan agar mereka dapat beradaptasi secara cepat dengan proses belajar-mengajar di perguruan tinggi.

Para mahasiswa baru perlu mengetahui sarana dan prasarana yang dapat digunakan untuk mendukung proses belajar di perguruan tinggi. Selain itu, mereka harus memahami tata cara mengaksesnya.

Untuk itu, tiap universitas mengadakan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PK2MB) atau yang biasa dikenal dengan sebutan ospek (Orientasi Studi Pengenalan Kampus).

PK2MB merupakan rangkaian kegiatan memperkenalkan kehidupan kampus, kegiatan akademik, dan kegiatan kemahasiswaan bagi mahasiswa baru. Sebanyak 13 ribu-an mahasiswa baru akan mengikuti PK2MB di Universitas Brawijaya (UB) pada 13-15 Agustus 2019.

Dalam PK2MB atau ospek ini, biasanya mahasiswa baru direpotkan dengan penugasan untuk membawa berbagai macam barang-barang atau alat-alat Ospek.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UB Prof Dr Drs Abdul Hakim MSi menyatakan, barang-barang yang dibawa mahasiswa baru nantinya akan membantu memberikan keuntungan kepada pedagang kecil. "Dari penugasan itu yang jelas akan menguntungkan usaha kecil terutama. Jadi yang kita pikirkan juga efek sampingnya terhadap usaha kecil karena itu yang menjual hanya usaha-usaha kecil," ujarnya saat ditemui di gedung Rektorat UB belum lama ini.

Abdul Hakim juga menyatakan bahwa tugas yang dibebankan kepada mahasiswa tidak akan memberatkannya. Jadi, barang-barang yang diharuskan dibawa oleh para mahasiswa baru mudah didapat serta tidak mahal. "Tidak boleh memberatkan mahasiswa," tandasnya.

Sementara itu, di masa ospek ini tidak jarang terdapat joki alat ospek di mana-mana. Pihak perguruan tinggi pun tidak bisa mengontrol hal ini. Namun, Abdul Hakim berharap mahasiswa tidak mengandalkan jasa joki dan membuatnya sendiri. "Kita tidak bisa mengontrol. Tapi mudah-mudahan tidak ada yang seperti itu. Tidak ada orang tua atau orang lain yang kemudian menjadi penyedia itu semua," pungkasnya.