Foto: SSCM for MalangTIMES
Foto: SSCM for MalangTIMES

MALANGTIMES - Belum semua anak bisa mengakses pendidikan. Misalnya saja, para anak jalanan atau kaum marginal yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Padahal, hak mereka akan pendidikan tercantum dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dan 2 yang menyatakan bahwa, Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Anak jalanan biasanya berusia di antara tujuh hingga lima belas tahun. Mereka memilih untuk mencari penghasilan di jalanan, yang tidak jarang menimbulkan konflik ketenangan, ketentraman dan kenyamanan orang lain di sekitarnya, serta tidak jarang membahayakan dirinya sendiri.

Di Kota Malang, anak jalanan sering kali dapat kita temui sedang mengamen, mengemis, berjualan, maupun berkumpul dengan teman-temannya. 

Harapan baru bagi anak-anak untuk bersekolah muncul dengan hadirnya komunitas Save Street Child Malang (SSCM). Save Street Child Malang merupakan komunitas yang bergerak dalam membantu anak jalanan di Kota Malang untuk mendapatkan pendidikan. Kebanyakan, mereka yang dibantu adalah anak-anak yang putus sekolah lantaran masalah finansial.

SSCM mengandalkan dana yang berasal dari donatur untuk menyekolahkan kembali anak-anak jalanan tersebut hingga berhasil menyelesaikan sekolahnya. 

SSCM menyadari, anak jalanan termasuk generasi penerus bangsa. Jadi, sangat disayangkan ketika ada anak yang seharusnya masih berada di dunia pendidikan berlari ke jalanan untuk membantu nafkah keluarga.

Ditemui di basecamp SSCM, Ketua SSCM Yudhono bercerita mengenai anak jalanan yang sudah disekolahkan saat ini. 

"Untuk saat ini jumlah total adik-adik yang ditanggung biaya pendidikannya adalah 17, anak mulai dari SD, SMP, dan SMK. Bahkan adik-adik yang dahulu di jalanan kemudian dibantu untuk mendapatkan pendidikannya, sudah ada yang telah menyelesaikan pendidikan wajib 12 tahun," bebernya.

Mengembalikan anak jalanan ke dalam dunia pendidikan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Ada pula oknum dalam hal ini orang tua anak jalanan yang tak peduli pendidikan anaknya. Ia memanfaatkan biaya sekolah anaknya sementara anaknya tidak pernah hadir ke sekolah. 

Di sisi lain, juga terdapat siswa-siswa yang berprestasi dan dapat bersekolah dengan baik. 

"Bantuan dana pendidikan dari SSCM ini meliputi SPP hingga uang saku," ucap Yudhono.

Menurut Yudhono, donatur biasanya sudah memiliki perjanjian untuk membiayai minimal satu semester.

Munculnya komunitas ini tentu bisa membantu permasalahan pendidikan yang dirasakan oleh anak jalanan, meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Malang, hingga pada akhirnya bisa mengurangi angka pengangguran di Kota Malang.