Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri SIK SH MH (tengah.  (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri SIK SH MH (tengah. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Penipuan online dengan modus order fiktif Grab food, yang melibatkan pembeli maupun penjual fiktif, merupakan modus tergolong baru dan pertama terjadi di Kota Malang. Hal tersebut dibenarkan Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri (1/8/2019).

Sebelumnya, Fitria Dwi Astuti (40), warga Jalan Terusan Titan 5, G4, Purwantoro, Blimbing, Kota Malang, menjadi korban penipuan modus tersebut. Pelaku memanfaatkan kondisi warung korban yang sedang tutup.

Bahkan, dari aksi penipuan yang dilakukan oleh oknum yang tak bertanggung jawab itu, selama tiga hari korban harus menderita kerugian sekitar Rp 40 juta. Dan per harinya, transaksi yang dilakukan penipu tersebut selalu di atas Rp 10 juta. Aksinya dilakukan mulai  27 Juli hingga 29 Juli 2019.

"Iya modus ini memang tergolong baru di Kota Malang. Selain itu, baru kali ini ada laporan kasus seperti ini," jelas Asfuri.

Menindaklanjuti hal itu, polresta akan segera memanggil pihak Grab yang berkaitan langsung dengan kasus tersebut untuk dimintai keterangan. "Tentu saja akan kami mintai keterangan karena memang yang bersangkutan dengan kasus ini. Pendalaman masih kami lakukan" terang kapolres Malang Kota.

Pihak kepolisian juga tengah mendalami barang-barang bukti yang diserahkan korban saat laporan, seperti video yang memperlihatkan beberapa oknum driver sempat ngetem atau berkumpul di lokasi warung korban yang sedang tutup.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Fitria Dwi Astuti  menjadi korban penipuan modus order fiktif Grab food. Modus yang digunakan pelaku adalah melakukan order fiktif ke warung Bebek Cipuk miliknya yang berada di kawasan Jalan Raden Tumenggung Suryo, Blimbing, Kota Malang.

Padahal, selama beberapa hari belakangan, warung bebek miliknya tutup. Dan saat itu sedang proses untuk perpindahan alamat untuk order online. Namun, tutupnya warung tersebut justru dimanfaatkan para pelaku penipuan.

Pelaku diduga menjadi pembeli fiktif, penjual fiktif, sekaligus driver dalam aksi tersebut. Untuk mendapatkan struk atas nama warung korban, yang menjadi salah satu syarat selesainya transaksi dan mendapatkan pengembalian uang order dari pihak Grab, pelaku sengaja mencetak sendiri struk memanfaatkan aplikasi android dari kasirpintar.co.id. Dicurigai korban, pelaku jumlahnya lebih dari satu orang.

Akibat penipuan tersebut, korban harus menanggung tagihan dari pihak Grab dengan jumlah yang cukup besar, 25 persen dari total nilai transaksi dalam sehari. Transaksi yang dilakukan penipu per hari selalu diatas Rp 10 juta. Penipu memanfaatkan promo 40 persen yang disediakan pihak Grab untuk mengambil keuntungan.