Kegiatan di Klinik UMMI. (Foto: Humas)

Kegiatan di Klinik UMMI. (Foto: Humas)



MALANGTIMES - Menjadi mahasiswa memang selalu ada suka maupun duka. Bagi mahasiswa baru yang merantau, keadaan akan menuntutmu untuk siap menghadapi segala masalah sendirian.

Masa-masa mahasiswa sendiri merupakan masa yang sangat riskan terhadap kesehatan. Di masa ini, setelah umur melewati 17 tahun, kecendrungan mencoba hal-hal baru terutama dalam hal lifestyle, dalam hal ini juga makanan, sangat besar.

Untuk itu, penyakit tidak hanya datang karena kamu tidak teratur makan atau jarang olahraga. Melainkan juga asupan makanan dari luar yang kurang sehat.

Ketika kamu sakit, tentu tak ada keluarga yang mengurus. Jika biasanya ada orangtua, saudara, atau asisten rumah tangga yang bisa kamu mintai tolong untuk merawatmu, sekarang kamu harus siap melalui cobaan fisik dan mental ini sendiri.

Nah, bagi mahasiswa baru Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) tidak perlu khawatir. UIN Malang menyediakan Klinik UMMI yang memberikan pelayanan maksimal terhadap warga UIN Malang.

Klinik ini berada di gerbang depan UIN Malang. Klinik UMMI sering menjadi jujukan mahasiswa ketika sakit. UMMI sendiri ialah singkatan dari UIN Maulana Malik Ibrahim. Klinik ini selalu tampak tidak begitu ramai, namun juga tidak begitu sepi. Terdapat satu dokter yang selalu stand by di tempat, dia dr Umik Lisa Desiyanti. 

Klinik UMMI memiliki tenaga medis empat orang yang terdiri atas satu kepala klinik yang juga dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan, satu dokter, satu Asisten Apoteker, dan staf administrasi. “Sebenarnya ada dokter gigi juga untuk Poli Gigi, tetapi sudah resign,” terang wanita berkacamata ini. 

Untuk pelayanan, klinik ini dikhususkan untuk sivitas akademik UIN Malang. Syarat berobat sangat mudah.

Untuk yang belum pernah berobat, diharuskan membawa Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Sedangkan yang sudah pernah, membawa KTM dan kartu berobat. Bagaimana dengan biayanya? Gratis.“Ya, berobat di sini itu tidak perlu mengeluarkan biaya. Cukup membawa KTM saja,” ucapnya.

Lebih lanjut Lisa berharap, tenaga medis dan karyawan Klinik UMMI bisa ditambah. “Bisa dilihat sendiri kan tadi waktu ada pasiennya banyak, saya bantu asisten apotekernya, terus juga meriksa beberapa pasien,” ungkapnya.

Lantaran kurangnya tenaga, jam buka klinik pun sering telat. "Iya, karena banyaknya pasien kita tutup terkadang tidak sesuai jam. Semisal buka jam delapan pagi baru tutup jam setengah satu siang. Lalu, buka lagi jam dua siang,” paparnya.

Dengan kondisi tersebut, dr. Lisa berharap agar pihak kampus dapat menambah staf di Klinik UMMI. “Agar klinik berjalan normal dan kami tidak kerepotan,” harapnya.

Meski begitu, Klinik UMMI akan terus memberikan pelayanan maksimal kepada para pasiennya.

End of content

No more pages to load