Ilustrasi petugas BNN Kabupaten Malang saat melakukan tes urin terhadap peserta rehabilitasi (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Ilustrasi petugas BNN Kabupaten Malang saat melakukan tes urin terhadap peserta rehabilitasi (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Meski ratusan tersangka pengedar narkoba sudah dipenjara, namun tidak membuat peredaran narkotika di Kabupaten Malang, seketika dapat dihentikan. Banyak faktor yang mendasari bisnis narkoba semakin tumbuh subur. Salah satunya, masih banyaknya jumlah pengguna yang kedapatan membeli serta mengkonsumsi barang haram tersebut.

Terbukti, hingga akhir bulan Juli lalu, puluhan orang menjalani rehabilitasi akibat ketergantungan narkotika. ”Hingga bulan juli, sudah ada 53 peserta yang menjalani rehabilitasi,” kata Kepala BNN (Badan Narkotika Nasional) Kabupaten Malang, Letkol Laut (PM) Agus Musrichin.

Dari jumlah tersebut, lanjut Agus, sebanyak 40 peserta yang menjalani rehabilitasi berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan sisanya, yakni 13 peserta merupakan seorang perempuan. ”Jumlah peserta rehabilitasi pada pertengahan tahun 2019 ini, didominasi dari kalangan pekerja. Yakni sebanyak 30 orang,” sambung Agus.

Dari hasil pendalaman BNN Kabupaten Malang, mayoritas peserta rehabilitasi yang berasal dari kalangan pekerja ini, menjalani tahap pemulihan melalui sistem rawat jalan. 

”Hanya ada 4 peserta rehabilitasi yang menjalani fase pumulihan melalui sistem rawat inap, hal itu dikarenakan tingkat ketergantungannya sudah parah. Sedangkan 49 peserta lainnya sudah diperkenankan rawat jalan, karena tingkatan kecanduannya sudah berangsur membaik,” terang Agus.

Pihaknya menambahkan, puluhan pekerja yang menjalani rehabilitasi ini, kebanyakan karena ketergantungan narkotika jenis pil double L. Sebab, dari 53 peserta yang direhabilitasi, sebanyak 48 orang menjalani tahap pemulihan dari ketergantungan pil koplo (sebutan pil double L).

”Faktor depresi membuat kalangan pekerja mulai mencari pelarian dengan mengkonsumsi narkoba. Selain itu tuntutan pekerjaan dan tekanan dari perusahaan, membuat para pekerja ketagihan mengkonsumsi narkotika dengan dalih mendongkrak stamina,” ungkap Agus.

Kepada MalangTIMES.com, Agus menuturkan jika jumlah peserta rehabilitasi memang selalu mengalami peningkatan di setiap tahunnya. Pada tahun 2018 lalu misalnya, ketika itu BNN Kabupaten Malang menampung sebanyak 95 peserta rehabilitasi. ”Dari jumlah tersebut, 37 orang diantaranya berasal dari kalangan pekerja,” pungkasnya.