Suasana sosialisasi Quick Wins Pelayanan Darah di Dinas Kesehatan Kota Malang (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Suasana sosialisasi Quick Wins Pelayanan Darah di Dinas Kesehatan Kota Malang (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Tingkat kematian pada ibu menjadi perhatian khusus dibidang kesehatan.

Karena angka kematian itu disebabkan karena kurangnya kebutuhan darah di masa kehamilan, proses persalinan, hingga saat masa nifas (40 hari pasca melahirkan).

Meski tingkat kematian pada ibu di Kota Malang menurun drastis, dimana hingga akhir Juli 2019 ini data yang masuk ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang ada 3 kasus.

Namun, bukan berarti hal itu tidak menjadikan fokus utama.

Kasi Pelayanan Kesehatan Primer (Yanprimer), dr. Endah Listiya Angraeni mengatakan sosialisasi Quick Wins Pelayanan Darah tersebut sebagai salah satu upaya menurunkan angka kematian ibu. 

Salah satunya menjamin ketersediaan darag yang cukup bagi bagi ibu hamil, bersalin dan nifas.

"Kita mainnya ini kan angka kematian ibu di Kota Malang itu zero. Melalui sosialisasi quick wins, dimana dalam penanganan petugas kesehatan nantinya akan cepat tanggap dan tepat. Dan memulai itu memang semuanya dari bawah sejak ibu hamil," ujar dia usai mengisi Sosialisasi Quick Wins Pelayanan Darah di Dinkes Kota Malang, Kamis (1/8).

Faktor kematian pada ibu ini memang berbagai macam, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan pencegahan. 

Seperti, persiapan penyediaan darah dan juga kesiapan alat dari penyedia fasilitas kesehatan itu sendiri. 

Kemudian dilihat dari kesiapan pihak untuk menyediakan pendonor setidaknya harus ada empat pendonor.

"Ini semua harus dicegah, satu ibu hamil ini harus dilindungi empat pendonor. Bukan berarti kemudian waktu melahirkan mereka iniharus berdonor, tapi sewaktu-waktu apabila kekurangan empat ini sudah siap untuk pendonornya," imbuhnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Dinkes Kota Malang juga melakukan kerjasama dengan UTD PMI untuk ketersediaan darah hingga peran fasilitas kesehatan baik dari puskesmas dan rumah sakit.

"Ini harus saling bersinergi, peran dinkes melalui puskesmas dan rumah sakit seperti apa. Kemudian dari PMI ketersediaan darahnya bagaimana. Sehingga nanti itu tidak ada kendala bagaimana ibu yang persalinan atau ibu hamil yang membutuhkan darah siap sesegera mungkin. Tidak kekurangan sampai ibu melahirkan," pungkas dia.

End of content

No more pages to load