Ilustrasi cabai rawit. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Ilustrasi cabai rawit. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah dalam satu bulan terakhir memicu inflasi di Kota Malang. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, cabai rawit mengalami kenaikan harga sebesar 151,86 persen dengan andil 0,1857 persen terhadap inflasi. 

Baca Juga : Pertama Kalinya di Malang Ada Studio Apartemen Luas Harga Termurah Hanya di Kalindra

Kepala BPS Kota Malang Sunaryo mengungkapkan, pada periode Juli 2019 ini terjadi inflasi di angka 0,20 persen. 

Angka tersebut di atas inflasi Jawa Timur di angka 0,16 persen dan di bawah inflasi nasional yang sebesar 0,31 persen. 

"Secara umum, inflasi Kota Malang relatif stabil. Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi yakni kelompok bahan makanan, sandang, makanan jadi-minuman-rokok tembakau, juga perumahan-air-listrik-gas, pendidikan, dan kesehatan," urainya.

Sunaryo menguraikan, selain cabai rawit, komoditas penyumbang inflasi lainnya yakni daging ayam ras. 

Harganya naik 8,08 persen dengan andil 0,099 persen terhadap inflasi. Disusul kenaikan harga cabai merah sebesar 15,8 persen, dengan andil 0,06 persen. Harga emas perhiasan juga terpantau naik 2,7 persen dengan andil 0,02 persen, termasuk juga kenaikan harga pada komoditas buah pir, tauge atau kecambah, ketimun, pisang, labu siam dan upah pembantu rumah tangga.

"Dari 10 komoditas penyumbang inflasi, ada 8 yang dari kelompok bahan makanan, dan yang paling besar cabai rawit," tambahnya. 

Menurut Sunaryo, cabai rawit merupakan komoditas yang sampai saat ini masih dicari akar permasalahan fluktuasi harganya. 

Pasalnya, kenaikan tersebut tidak hanya terjadi di tingkat daerah melainkan secara nasional. 

"Angka (kenaikan) cabai ini tidak hanya Malang, pedasnya sampai tingkat nasional. Itu yang jadi catatan kami karena seringkali sangat pedas," terangnya.

Sunaryo menilai, komoditas cabai rawit merupakan salah satu kebutuhan utama masyarakat. Baik dalam skala rumah tangga maupun hingga skala industri dan rumah makan.

"Cabai ini kan diperlukan masyarakat. Jadi ya gemes juga. Problemnya, suplay and demand di Kota Malang ini kan sangat tergantung pasokan dari luar," sebutnya. 

Baca Juga : Cari Tempat Tinggal Murah di Malang? Coba Apartemen The Kalindra

Salah satu alternatif solusi yang bisa ditempuh oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang, lanjut Sunaryo, yakni menggalakkan penanaman cabai secara mandiri untuk kebutuhan rumah tangga. 

Selain itu, juga membiasakan masyarakat mengonsumsi cabai kering. 

"Jadi ketika harga cabai jatuh, bisa dikeringkan. Meskipun rata-rata masyarakat masih suka yang segar ya," tuturnya. 

Sementara itu, kelompok pengeluaran transportasi menjadi penghambat laju inflasi yang signifikan dengan andil -1,25 persen.

Terbesar yakni tarif angkutan udara yang mengalami penurunan harga 0.20 persen dengan andil menahan inflasi sebesar -0.23 persen. 

Selain itu juga penurunan harga bawang putih, tomat sayur, mujair, bawang merah, tongkol pindang, semangka, selada, tarif kereta api, dan besi beton. 

"Satu-satunya yang mengalami deflasi adalah kelompok transportasi yakni karena penurunan tarif angkutan udara dan tarif kereta api. Itu cukup besar pengaruhnya," pungkasnya. 

Untuk diketahui, pada Juli 2019 ini, posisi Kota Malang berada di urutan ke empat di Jawa Timur.

Inflasi tertinggi terjadi di Kediri sebesar 0,44 persen, disusul Banyuwangi 0,39 persen dan Jember 0,24 persen.