MALANGTIMES - Pembangunan tandon air yang dilakukan di beberapa wilayah kekeringan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang ternyata memiliki fungsi yang memudahkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Seperti yang terjadi di wilayah Sumbermanjing Wetan (Sumawe) yang telah dihajar  kekeringan dalam beberapa hari terakhir ini.

Tandon air, yang berfungsi untuk menampung air hujan, saat kemarau ternyata bisa difungsikan untuk penyimpanan air yang di-dropping oleh Pemkab Malang. Sehingga warga yang membutuhkan air bersih tidak perlu mengantre panjang saat truk tangki air datang ke wilayah mereka. Beberapa tahun lalu, saat kekeringan juga melanda beberapa wilayah yang masuk zona rawan kekeringan di Kabupaten Malang, antrean panjang mendapatkan air terjadi karena tidak adanya tandon.

Dengan adanya tandon air, selain memudahkan warga untuk mendapatkan air bersih, juga memudahkan petugas yang men-dropping air ke wilayah tersebut. "Tahun ini memang tidak seperti tahun sebelumnya. Saat kami dropping air bersih, warga tidak perlu antre dan berebut untuk mendapatkannya. Ini akan memudahkan warga yang terdampak. Juga bagi petugas," kata Bambang Istiawan, kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Selasa (30/07/2019).

Petugas saat ini cukup memasukkan air bersih ke tandon yang telah ada. Sehingga tidak perlu juga membutuhkan waktu dalam menyalurkan air bersih ke jerigen warga yang biasanya antre panjang atau terkadang berebut untuk saling mendahului.

"Dari tandon itu, warga bisa mengambil air sesuai kebutuhannya dan kapan saja," ujar mantan kasatpol PP Kabupaten Malang yang juga menegaskan tahun ini pihaknya telah menyiapkan 10 unit mobil tangki air bersih.

Bambang juga menyampaikan, BPBD Kabupaten Malang tidak sendiri dalam melakukan pelayanan air bersih di berbagai wilayah kekeringan. Seperti tahun-tahun lalu, beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) seperti Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan  Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang ikut  membantu kelancaran penyaluran air bersih.

"Pemkab Malang tetap siaga untuk mencegah berbagai bencana di wilayahnya. Kekeringan, misalnya, yang setiap tahun terjadi tetap kami antisipasi. Alhamdulillah setiap tahun juga ada progres dalam penanganan kekeringan," ungkapnya.

Progres yang dimaksud adalah berkurangnya wilayah kekeringan. Dari data BPBD Kabupaten Malang di tahun lalu wilayah terdampak kekeringan mencapai 11 kecamatan, saat ini telah berkurang menjadi 9 kecamatan.

Progres tersebut tidak lepas dari berbagai pembangunan dari Pemkab Malang, baik sumur bor, tandon air sampai dengan adanya pipanisasi yang dilakukan oleh DPKPCK Kabupaten Malang.
Berbagai pembangunan itulah yang mampu meredam, walau belum maksimal, dampak kekeringan bagi warga di Kabupaten Malang. 

Hal ini juga terlihat dari laporan masyarakat yang meminta bantuan droping air bebraih ke BPBD, saat ini masih di wilayah Sumawe yang telah terdampak cukup serius.
"Ini tidak lepas dari sinergitas di tubuh OPD. Walau ada kemajuan seperti itu, kita tetap siaga untuk membantu masyarakat yang kekeringan," tegas Bambang.

Dia mengatakan juga, suplai air bersih akan dilakukan sampai dengan musim kemarau berakhir atau bencana kekeringan sudah tidak terjadi.   "Biasanya kekeringan ini hingga Januari tahun depan," imbuhnya.

Dampingan anggaran untuk tanggap darurat pun disiapkan untuk menghadapi berbagai bencana, tak terkecuali kekeringan yang mulai mengintai wilayah lainnya. Bambang menyampaikan anggaran untuk itu sekitar Rp 1 miliar. 

"Ada anggaran untuk tanggap bencana, walaupun memang saat ini terus berkurang karena terpakai. Tapi, tidak ada masalah terkait penanganan kekeringan tahun ini," pungkas Bambang.