Ilustrasi pelaksanaan festival kampung atau festival rakyat di Kota Malang. (Foto: Dokumen MalangTIMES)
Ilustrasi pelaksanaan festival kampung atau festival rakyat di Kota Malang. (Foto: Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dalam kurun satu dasawarsa terakhir, beragam acara bertajuk Festival Kampung yang berlokasi di lingkup RT/RW hingga kelurahan, banyak bermunculan di Kota Malang. Pemicu awalnya adalah semarak acara Festival Malang Tempoe Doeloe yang dulunya sempat digelar setiap tahun di Jalan Ijen. 

Namun sayangnya, festival-festival kecil itu belum masuk dalam kalender event Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang.

Karena itu, tak jarang penikmat festival kampung itu tak lebih dari warga satu kecamatan, atau dari Malang Raya saja. Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni mengakui masih sedikitnya festival rakyat yang masuk kalender event. 

"Sebenarnya dinas sangat memberikan apresiasi kepada kampung-kampung yang melaksanakan kegiatan tersebut," tuturnya. 

"Kalau memang bisa digelar secara reguler, maka ini bisa kami masukkan kalender event. Sayangnya ketika kami menyusun CoE (calender of event), teman-teman di kelurahan belum memberikan data konkret ke kami," lanjut Dayu, sapaan akrab nya. 

Karena belum ada agenda yang pasti, maka dinas pun tidak bisa berspekulasi dan asal mencantumkan festival kampung pada daftar acara tahunan.

Padahal, menurut Dayu, jika perencanaan festival kampung bisa ditentukan jauh hari sebelumnya, Disbudpar bisa melakukan promosi kegiatan. Harapannya, gaung festival akan lebih besar dan juga menarik lebih banyak pengunjung. "

"Misalnya bisa disampaikan, bahwa tahun depan tanggal sekian bulan sekian ada kegiatan ini, bisa kami cantumkan. Dan pasti akan dibantu promosi, kalau sudah dikoordinasikan," tegasnya. 

Memang di Malang ini, Dayu menilai bahwa pola pengembangan pariwisatanya adalah bottom-up atau dari bawah ke atas. Artinya, inisiator hingga pergerakan wisata, semua dari masyarakat. "Termasuk dalam kegiatan-kegiatan berkesenian, pembangunan destinasi, itu digerakkan oleh masyarakat sendiri," sebut nya. 

Sisi positifnya, pola bottom-up tersebut lebih langgeng dan bertahan lama. "Itu malah lebih bagus daripada top-down (dari atas ke bawah) kalau mereka hanya dipaksa digerakkan tapi tidak punya sumber daya yang mumpuni di lingkungannya, maka akan gampang berhenti kegiatannya. Tetapi kalau dari bawah, ini lebih berkesinambungan," sebut nya.

"Nah yang dilakukan masyarakat terkait dengan Festival Kampung Genitri, Kampung Celaket dan lain-lain, itu merupakan upaya pelestarian budaya. Di samping juga menggerakkan ekonomi masyarakat setempat karena ada kuliner, jual beli antara pengunjung dan warga," pungkas nya.