Ilustrasi Para pencari kerja memadati arena Job Fair (ANTARA)
Ilustrasi Para pencari kerja memadati arena Job Fair (ANTARA)

MALANGTIMES - Angka pengangguran terbuka masih sangat tinggi di Kota Malang. Bahkan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, jumlah pengangguran pada 2018 lalu mencapai sekitar 30.989 warga. Dari angka tersebut, 42,11 persennya merupakan lulusan SMA/SMK atau sederajat. 

Kepala BPS Kota Malang Sunaryo mengatakan, angka pengangguran di kota pendidikan ini mencapai 6,79 persen. Atau jika dihitung, ada sekitar 30.898 warga job-less. "Dari keseluruhan jumlah pengangguran tersebut, lulusan SMA/SMK menjadi penyumbang angka pengangguran tertinggi sebesar 42,11 persen," ujarnya.

Angka tersebut jauh di atas lulusan SD maupun SMP yang relatif lebih sedikit jumlah penganggurannya. "Untuk lulusan perguruan tinggi yakni D3 dan S1 sebesar 32,8 persen. Untuk lulusan SMP persentasenya 6,57 persen, kemudian lulusan SD sebesar 18 persen," papar Sunaryo. 

Sunaryo menjelaskan, masyarakat juga harus memahami tentang definisi pengangguran versi BPS. Pengangguran itu merupakan warga angkatan kerja yang tidak mengurus rumah tangga dan mencari kerja. 

"Jadi kalau ada anak meski masih usia sekolah, tetapi dia mencari pekerjaan, maka itu masuk angkatan kerja. Jika mereka yang mencari kerja dan belum dapat pekerjaan, itu masuk pengangguran," terangnya.

Terpisah, Plt Kepala Bidang Hubungan Industrial Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Malang M Damhudi mengakui masih tingginya angka pengangguran terbuka. Menurutnya, salah satu penyebab jumlah pengangguran yang besar adalah akibat banyaknya pendatang yang masuk ke Kota Malang. 

Biasanya, pendatang itu menempuh pendidikan, namun begitu lulus, mereka enggan meninggalkan Malang. "Pengangguran di Kota Malang memang tertinggi di Jatim. itu karena lulusan sekolah atau perguruan tinggi setelah lulus ingin tetap bekerja di Kota Malang. Akhirnya ketika mereka belum dapat pekerjaan, masuk menjadi pengangguran," tuturnya.

Untuk itu, Disnaker berharap lembaga pendidikan bisa membantu memberikan edukasi agar para pendatang tersebut mau kembali untuk mengembangkan daerah asalnya.

 "Pemerintah pun juga berupaya membantu mengurangi angka pengangguran dengan job fair yang digelar sebanyak empat kali setahun. Meskipun jumlah lowongan kerja yang ada masih belum bisa mengakomodasi semua pencari kerja," ujar Damhudi.

Selain itu, lanjutnya, Kota Malang juga akan memberikan pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas bagi usia angkatan kerja. Sehingga para pencari kerja itu bisa memenuhi kualifikasi kebutuhan penyedia lapangan kerja. 

"Kami juga berkoordinasi dengan lembaga pendidikan khususnya SMK, agar jurusan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan," pungkas nya.