Suasana talkshow Literasi Toleransi: Muslimah yang Diperdebatkan dan Peradaban Sarung di eks Bioskop Kelud, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Suasana talkshow Literasi Toleransi: Muslimah yang Diperdebatkan dan Peradaban Sarung di eks Bioskop Kelud, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Sebagaimana sebagian besar penduduk Indonesia adalah muslim, demikian juga kaum perempuannya yang disebut muslimah. Namun, menjadi seorang muslimah di Indonesia punya banyak tantangan. Bukan tantangan ekstrem seperti mendobrak keterbatasan mengungkapkan pendapat, melainkan mulai dari hal sederhana seperti pensil alis.

Hal tersebut dikupas oleh penulis sekaligus aktivis Jaringan Gusdurian, Kalis Mardiasih. Kalis menyoroti soal tren komunikasi di media sosial antar kaum muslimah. "Kita perlu perhatian untuk merebut tafsir muslimah dan mempertahankan keberagaman muslimah Indonesia. Karena perempuan ini gampang dibikin masalah," ujarnya, hari ini (29/7/2019). 

"Semua yang nempel di badan muslimah itu gampang dinilai dibuat berantem. Mulai pensil alis, rok, sampai debat di media sosial soal jilbab panjang tapi belum pakai kaos kaki," ujarnya saat menjadi pembicara talkshow Literasi Toleransi: Muslimah yang Diperdebatkan dan Peradaban Sarung. Talkshow tersebut merupakan rangkaian dalam event Patjarmerah: Festival Kecil Literasi dan Pasar Buku Keliling di eks Bioskop Kelud, Kota Malang.

Media sosial memberikan tempat yang sangat terbuka untuk sesama muslimah berinteraksi. Yang sederhana, seperti saling berkomentar di media sosial. Sayangnya, masih banyak perdebatan yang dilakukan sejumlah muslimah masih terbatas persoalan-persoalan di permukaan. "Di tengah interaksi media sosial yang terus mencaci, orang yang membicarakan muslimah selalu membicarakan bentuk jilbab, syariat, peran, doktrin agama dan pasti ujung-ujungnya bicaranya pahala dan dosa," urainya. 

Padahal, menurut penulis buku Muslimah Yang Diperdebatkan itu ada tiga tantangan yang cukup urgen di kalangan muslimah. "Tantangannya saat ini menurut saya ada tiga. Pertama, tradisi yang ada di masa lalu misalnya mitos perempuan yang baik itu harus gimana-gimana. Kedua, tafsir agama konservatif dan tunggal dan ketiga soal kapitalisme," terangnya.

Kalis menyoroti terkait hilangnya korelasi antara isu-isu muslimah kekinian yang justru terdistraksi oleh kapitalisme. "Hari ini banyak ketidaknyambungan. Ketika membicarakan cadar sebagai ideologi, berhubungan dengan konservatifisme, tetapi hari ini ketika cadar dikaitkan dengan kapitalisme atau pasar, mereka sudah tidak seperti bayangan kita soal cadar, sudah jadi barang dagangan," paparnya. 

Sementara itu, penulis buku Peradaban Sarung, Ach Dhofir Zuhry atau yang akrab disapa Gus Dhofir mengungkapkan bahwa belakangan mulai banyak kritik untuk ustad "otak cingkrang" yang memahami Islam secara hitam putih. "Cara instan seperti ini justru laris, dan banalitas beragama sangat tampak di tahun-tahun politik. Setiap hari kita dikepung iklan-iklan. Ia bukan hanya konten manufaktur tapi mengubah pola pikir dan pola sikap," sebutnya.

End of content

No more pages to load