Kepala UPT PPU, Takroni Akbar, saat menunjukkan arsip pendataan buku zaman Belanda di TPU Sukun maupun kwitansi pembayaran pajak makam (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Kepala UPT PPU, Takroni Akbar, saat menunjukkan arsip pendataan buku zaman Belanda di TPU Sukun maupun kwitansi pembayaran pajak makam (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Pemakaman Umum (PPU), menyimpan sebuah benda yang mungkin menjadi salah satu harta berharga milik Kota Malang. Bahkan benda atau barang tersebut, bisa juga menjadi salah satu saksi dalam perkembangan peradaban di Kota Malang.

Empat buah buku pendataan makam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sukun Nasrani, yang sudah berusia sekitar 97 tahun, sampai saat ini masih tersimpan rapi di UPT PPU, Kota Malang.

Meskipun saat ini, kondisi buku sudah dalam keadaan lusuh, berwarna kecoklaan dan sedikit mengalami sobek pada beberapa bagian, namun buku tersebut terus diupayakan perawatan semaksimal mungkin oleh UPT PPU.

Dalam buku tersebut, berisi daftar nama-nama orang Belanda yang dimakamkan di TPU Sukun mulai tahun 1922 hingga sekitar tahun 1950. Data nama-nama orang Belanda yang dimakamkan, ditulis dengan tulisan tangan latin.

"Ada satu lembar bagian yang memang halaman pertamanya hilang entah kemana. Buku-buku lain, kami simpan. Memang sedikit rusak, sehingga kami tidak berani membuka-buka buku tersebut," jelas Kepala UPT PPU, Takroni Akbar (29/7/2019).

Namun sampai saat ini, masih belum diketahui siapa nama orang yang menulis atau melakukan pendataan makam-makam orang Belanda tersebut.

"Belum diketahui, tapi pastinya ya orang Belanda," ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, selain buku-buku data nama-nama orang Belanda yang dimakamkan di TPU Sukun, juga terdapat sebuah kwitansi bukti pembayaran pajak makam dan juga bukti registrasi pajak makam di TPU Sukun Nasrani.

Dan tak kalah tuanya, kwitansi maupun bukti registrasi tersebut juga sudah berusia cukup tua. Yakni berusia sekitar 69 tahun. Kondisi dari kwitansi bukti pembayaran pajak makam dan juga bukti registrasi pajak makam, juga terlihat lusuh termakan usia dan sedikit mengalami sobek.

Dalam bukti registrasi makam tersebut, tertulis dengan bahasa Belanda dan dengan tulisan tangan berbentuk latin. Meskipun sedikit pudar, tapi tulisan tersebut masih bisa dilihat.

Sementara pada kwitansi bukti pembayaran pajak makam, nampaknya dibuat dengan peralatan lebih modern, yakni dicetak. Meskipun tercetak dengan sistem modern, kwitansi tersebut juga masih tertulis kata-kata dengan ejaan lama. 

Termasuk materai yang menempel pada kwitansi tersebut juga dengan desain lawas. Pecahan yang tertulispun juga masih sebesar 30 sen.

 

 

"Dan untuk menjaga lembaran-lembaran tersebut tetap awet, makanya kami laminasi. Ini arsip-arsip yang sangat berharga dan memiliki nilai sejarah," bebernya.

Selain arsip buku maupun kwitansi, UPT PPU juga masih mempunyai arsip berupa foto yang juga menjadi saksi perkembangan TPU Nasrani Sukun. Terdapat sebuah foto arsitek yang membangun TPU Sukun maupun kondisi TPU Sukun dahulu.

"Ada sekitar 20 an foto masa lampau TPU Sukun. Rencananya, nanti kami juga akan memajang arsip-arsip tersebut di salah satu ruangan, setidaknya seperti museum," pungkasnya.