Suasana workshop Cara-Cara Kreatif Memasarkan Karya Secara Independen di rangkaian event Patjarmerah di eks Bioskop Kelud, Kota Malang (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Suasana workshop Cara-Cara Kreatif Memasarkan Karya Secara Independen di rangkaian event Patjarmerah di eks Bioskop Kelud, Kota Malang (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Anak-anak muda yang gemar berselancar di platform media sosial Instragram (IG) barangkali tak asing dengan akun Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini. Menjadi viral karena menyajikan kutipan-kutipan berisi sambatan alias keluhan khas milenial, akun tersebut kini memiliki pengikut lebih dari 146 ribu akun. 

Hari ini (29/7/2019) admin akun Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini (NKSTHI) Mas Aik berbagi tips seputar penerbitan karya lewat jalur indie. Bersama owner Banana Publisher, Yusi Avianto Pareanom, Mas Aik menjadi pembicara dalam workshop Cara-Cara Kreatif Memasarkan Karya Secara Independen. Workshop tersebut berlangsung dalam rangkaian Patjarmerah: Festival Kecil Literasi dan Pasar Buku Keliling di eks Bioskop Kelud, Kota Malang. 

Di hadapan ratusan peserta workshop, Mas Aik mengulik soal perjalanan akun NKSTHI hingga akhirnya bisa menerbitkan buku kumpulan kutipan sambatan. Dia menyebut, salah satu yang mendukung popularitas akun tersebut yakni gimmick yang muncul. Di awal, akun NKSTHI kerap disangka sebagai kloningan akun Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) yang lebih dulu eksis. 

"Tetapi nggak harus bikin gimmick untuk populer. Yang penting bagi pemula, seperti saya dulu, kita punya trik dan punya sesuatu yang beda dari penulis lain yang jadi daya tarik," tuturnya. Dia menceritakan bahwa akun NKSTHI juga tidak mendadak panen ribuan follower. Menurutnya, butuh waktu beberapa bulan untuk membangun brand. 

Jika akun sudah dikelola dengan baik, setelah banyak follower, bisa menjadi daya tawar bagi para penerbit. "Penerbit lebih nyaman kalo melihat akun yang sudah tumbuh dan punya pasar sendiri. Dari pengalaman pegang akun itu akhirnya penerbit-penerbit mayor menawari," sebutnya.

Dia juga menekankan agar penulis pemula tidak terhegemoni citra media atau penerbit konvensional. "Kalau memang mau nulis, nggak harus ke penerbit langsung. Maksimalkan dulu penggunaan media daring, semisal wattpad, tumbler, dan lain-lain. Banyak kok penulis saat ini yang lahir dari blogger, dia rutin menulis dan punya banyak pembaca. Akhirnya banyak tawaran, jadi biarkan karyamu berjalan dulu," paparnya.  

Sementara itu, owner Banana Publisher, Yusi Avianto Pareanom menambahkan agar penulis-penulis di daerah tidak berkecil hati dan tidak percaya diri atas karya yang dibuat. "Sebenarnya yang menjadi ukuran para penerbit, pertama harus kualitas. Mempertimbangkan pasar juga. Jangan sambat kalau penerbit nggak mau karena dari daerah. Memang kalau mau main ke penerbit besar maka harus memenuhi standar mereka," tegasnya.

Kalau naskahnya bagus, lanjutnya, penerbit tidak akan ragu mengeluarkan ongkos bagi penulis pemula. "Tetapi juga harus dicatat, kalau produk juga tidak sesuai standar kami, tentu juga tidak diterbitkan meskipun penulis mau membiayai sendiri pencetakannya," pungkasnya.