Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Jatah menteri di kabinet Jokowi jilid II tengah ramai menjadi perbincangan. Itu lantaran banyak isu yang beredar bahwa sejumlah partai non-Koalisi Indonesia Kerja mulai merapat untuk mendapat jatah dalam pemilihan menteri jilid II periode 2019-2024 tersebut.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas menyatakan bahwa susunan kabinet sepenuhnya menjadi hak prerogatif Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Sedangkan yang di luar hanya sebatas berhak memberikan usulan.

"Termasuk partai koalisi itu juga hanya berhak mengusulkan. NU mengusulkan ya boleh dong. Memang selama ini ikut berjuang. Tapi, itu tidak kemudian menekan dan sebangsanya karena selebihnya hak prerogatif presiden," ujar Yaqut saat mengunjungi Kota Malang belum lama ini.

Terkait partai non-Koalisi Indonesia Kerja yang diisukan merapatkan diri dalam koalisi Jokowi-Ma'ruf, Yaqut menjelaskan jalannya pemerintahan Indonesia harus seimbang. Sehingga partai-partai  di luar koalisi Jokowi-Ma'ruf seharusnya mengambil jalan oposisi saja.

"Hidup ini kan keseimbangan. Ada pagi ada malam, ada panas ada dingin. Saya kira negara pemerintahan juga begitu. Maka sebaiknya oposisi sajalah. Nggak usah gabung-gabung koalisi. Ngapain, bikin penuh dan tidak berimbang nanti," ujar Yaqut.

Pria yang juga menjabat di Komisi VI DPR RI ini lebih lanjut mengatakan, jalannya pemerintahan akan lebih stabil dengan komposisi yang seimbang, tanpa perlu penambahan partai koalisi di kubu Jokowi-Ma'ruf.

"Kalau negara ini nggak imbang, kan bahaya. Nggak ada kontrol. Nggak usah gabung-gabung. Nggak enak. Saya kira oposisi-oposisi yang berembuk. Kalau setuju, ya oke. Kalau nggak, ya berembuk. Karena seberapa pun kekuatan oposisi, itu sangat bermanfaat untuk majunya Indonesia," tandasnya.

Sejauh ini, ada tiga partai yang disinyalir tengah mendekat untuk berkoalisi dengan partai-partai pendukung Jokowi-Ma'ruf sebagai pemenang Pemilu Presiden 2019. Yakni Partai Gerindra, PAN, dan Demokrat. Padahal, sebelumnya ketiga partai ini mengusung pasangan capres Prabowo-Sandi bersama PKS dan Partai Berkarya.

End of content

No more pages to load